Sejak 24 Mei, tepat pukul 00.00, Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi resmi dinaikkan oleh pemerintah Indonesia. Kenaikannya pun bervariasi, premium naik menjadi Rp. 6.000,00 / liter , solar menjadi Rp. 5.500,00 / liter , dan minyak tanah naik menjadi Rp. 2.500 / liter. Kenaikan ini tak dapat terelakkan karena naiknya harga minyak dunia yang sekarang udah mencapai 140 dolar / barel.
Masyarakat tentu saja tak menerima kenaikan ini karena terasa sangat memberatkan. Coba bayangkan, dengan naiknya BBM maka biaya transportasi, sembako, suku cadang, dll pasti ikut naik. Maka terjadilah demo di mana - mana yang dilakukan oleh para mahasiswa dan rakyat. Jika terus-menerus terjadi demo bisa-bisa kondisi kota Jakarta menjadi tak aman dan bukan tidak mungkin akan terjadi chaos.
Sebenarnya siapa yang patut disalahkan berkaitan dnegan kenaikan BBM ini???
Jika bertanya kepada masyarakat awam yang kurang mengerti perkembangan ekonomi terkini, pemerintah pasti yang akan disalahkan. Pemerintah dianggap tidak becus dalam mengurus negara, pejabat-pejabat yang seahrusnya membela rakyat malah sibuk membela diri mereka sendiri dengan banyaknya kasus-kasus korupsi, pelecehan seksual, dll yang menimpa mereka.
Jika bertanya kepada tokoh-tokoh politik yang anti pemerintah, mereka juga pasti menyalahkan pemerintah atas kenaikan BBM yang meresahkan masyarakat ini. Penganalisaan mereka tehadap kenaikan harga BBM ini tentu lebih dalam daripada pikiran orang awam dan ini juga merupakan saat tepat bagi mereka-mereka untuk mengambil simpati publik, siapa tahu tokoh – tokoh politik yang biasa didukung partai-partai oposisi ini bisa mendapatkan jabatan penting setelah Pemilu 2009.
Namun, jika kita bertanya kepada Pemerintah tentang kenaikan harga BBM ini, mereka melalui juru bicara yang handal pasti akan menjabarkan secara panjang lebar berbagai macam alasan yang nantinya akan membuat masyrakat pusing dengan istilah-istilah perekonomian yang dipakai. ”Harga minyak dunia semakin naik,sementara APBN semakin menipis dan jika tidak dinaikkan makan inflasi akan semakin tinggi dan...bla..bla...bla”.
Berbagai macam cara alternatif katanya sudah dilakukan pemerintah namun tak mampu juga menghindarkan kenaikan harga BBM ini. Akhirnya pemerintah malah memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yan segera disambut dengan pro kontra dimana-mana. Ide pemerintah untuk menyalurkan BLT kepada rakyat miskin sebenarnya sudah baik namun sayang waktunya tidak tepat.
Mengapa BLT baru diberikan sekarang? Bukan diberikan sebelum-sebelumnya? Toh,para penerima BLT sudah miskin dari dulu dan bukan baru miskin sekarang karena kenaikan BBM. Indikasi suap pun merebak di mana-mana. Apalagi setelah adanya demo besar-besaran yang dilakukan mahasiswa yang banyak berakhir dengan kekerasan, pemerintah segera mencanangkan program BKR (Bantuan Khusus Mahasiswa) kepada 400.000 mahasiswa tidak mampu sebesar Rp 500.000/semester. Kebijakan yang agak aneh bukan??
Para pengamat politik menganggap pemerintah sudah kehabisan ide dan bantuan-bantuan ini dianggap sebagai pertanggungjawaban pemerintah. Para tokoh terkemuka di masing-masing partai politik pun seakan berlomba-lomba untuk mengkritik pemerintah. Namun jika tokoh-tokoh tersebut berada dalam posisi pemegang pemerintahan, apakah yang akan mereka lakukan?? Sepertinya mereka juga akan melakukan hal instan,sama seperti yang dilakukan pemerintah sekarang.
Jadi siapa yang sebenarnya patut disalahkan atas kenaikan BBM??
Saya juga tak dapat memutuskannya, dapatkah anda??
Saran saya hanya satu, introspeksilah diri masing-masing dan renungkan apakah kita pernah melakukan kesalahan?
(Maaf jika blog di atas menyinggung orang lain, ini hanya sebuah pikiran dari seorang yang memperdulikan kelangsungan negara Indonesia tercinta ini...Semoga segala akar permasalahan ini dapat teratasi seiring dengan berjalannya waktu)
Masyarakat tentu saja tak menerima kenaikan ini karena terasa sangat memberatkan. Coba bayangkan, dengan naiknya BBM maka biaya transportasi, sembako, suku cadang, dll pasti ikut naik. Maka terjadilah demo di mana - mana yang dilakukan oleh para mahasiswa dan rakyat. Jika terus-menerus terjadi demo bisa-bisa kondisi kota Jakarta menjadi tak aman dan bukan tidak mungkin akan terjadi chaos.
Sebenarnya siapa yang patut disalahkan berkaitan dnegan kenaikan BBM ini???
Jika bertanya kepada masyarakat awam yang kurang mengerti perkembangan ekonomi terkini, pemerintah pasti yang akan disalahkan. Pemerintah dianggap tidak becus dalam mengurus negara, pejabat-pejabat yang seahrusnya membela rakyat malah sibuk membela diri mereka sendiri dengan banyaknya kasus-kasus korupsi, pelecehan seksual, dll yang menimpa mereka.
Jika bertanya kepada tokoh-tokoh politik yang anti pemerintah, mereka juga pasti menyalahkan pemerintah atas kenaikan BBM yang meresahkan masyarakat ini. Penganalisaan mereka tehadap kenaikan harga BBM ini tentu lebih dalam daripada pikiran orang awam dan ini juga merupakan saat tepat bagi mereka-mereka untuk mengambil simpati publik, siapa tahu tokoh – tokoh politik yang biasa didukung partai-partai oposisi ini bisa mendapatkan jabatan penting setelah Pemilu 2009.
Namun, jika kita bertanya kepada Pemerintah tentang kenaikan harga BBM ini, mereka melalui juru bicara yang handal pasti akan menjabarkan secara panjang lebar berbagai macam alasan yang nantinya akan membuat masyrakat pusing dengan istilah-istilah perekonomian yang dipakai. ”Harga minyak dunia semakin naik,sementara APBN semakin menipis dan jika tidak dinaikkan makan inflasi akan semakin tinggi dan...bla..bla...bla”.
Berbagai macam cara alternatif katanya sudah dilakukan pemerintah namun tak mampu juga menghindarkan kenaikan harga BBM ini. Akhirnya pemerintah malah memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yan segera disambut dengan pro kontra dimana-mana. Ide pemerintah untuk menyalurkan BLT kepada rakyat miskin sebenarnya sudah baik namun sayang waktunya tidak tepat.
Mengapa BLT baru diberikan sekarang? Bukan diberikan sebelum-sebelumnya? Toh,para penerima BLT sudah miskin dari dulu dan bukan baru miskin sekarang karena kenaikan BBM. Indikasi suap pun merebak di mana-mana. Apalagi setelah adanya demo besar-besaran yang dilakukan mahasiswa yang banyak berakhir dengan kekerasan, pemerintah segera mencanangkan program BKR (Bantuan Khusus Mahasiswa) kepada 400.000 mahasiswa tidak mampu sebesar Rp 500.000/semester. Kebijakan yang agak aneh bukan??
Para pengamat politik menganggap pemerintah sudah kehabisan ide dan bantuan-bantuan ini dianggap sebagai pertanggungjawaban pemerintah. Para tokoh terkemuka di masing-masing partai politik pun seakan berlomba-lomba untuk mengkritik pemerintah. Namun jika tokoh-tokoh tersebut berada dalam posisi pemegang pemerintahan, apakah yang akan mereka lakukan?? Sepertinya mereka juga akan melakukan hal instan,sama seperti yang dilakukan pemerintah sekarang.
Jadi siapa yang sebenarnya patut disalahkan atas kenaikan BBM??
Saya juga tak dapat memutuskannya, dapatkah anda??
Saran saya hanya satu, introspeksilah diri masing-masing dan renungkan apakah kita pernah melakukan kesalahan?
(Maaf jika blog di atas menyinggung orang lain, ini hanya sebuah pikiran dari seorang yang memperdulikan kelangsungan negara Indonesia tercinta ini...Semoga segala akar permasalahan ini dapat teratasi seiring dengan berjalannya waktu)

No comments:
Post a Comment