Sunday, May 17, 2009

CRANK : HIGH VOLTAGE BUT LOW RATED


Gue udah nonton film ini 2 minggu lalu tapi baru sempet buat reviewnya neh...maklum....sibuk (padahal proyek sismul aja masi males buat...ckckck). Kenapa gue mau nonton film ini? karena film ini merupakan kelanjutan dari CRANK yang ide nya cukup orisinil dimana Jason Statham yang berperan sebagai Chev Chelios harus melakukan berbagai kegiatan gila untuk memacu denyut jantungnya yang tak boleh melemah setelah diinjeksi oleh racun cina yang sangat berbahaya.

Sebenernya secara logika, Crank tak patut dibuatkan sekuelnya karena Chelios diceritakan mati jatuh dari ketinggian setelah bertarung dengan boss utama, tapi namanya juga bisnis, kalau sukses semustahil apapun akhir cerita film pertama, film kedua pasti akan dibuat dengan cara apapun. 

Ternyata Chelios yang kita kira sudah tergeletak tak bernyawa ternyata masih hidup dan diangkut oleh Mafia Cina, dengan tujuan untuk mengambil alat alat vital di tubuh Chelios untuk dijual di pasar gelap. Jantung Chelios yang sangat FAMOUS itu ternyata sudah dipesan oleh Poon Dong (David Carradine dalam make up yang hampir tak dikenali !!!!), maka diambillah jantung Chelios dan jantungnya diganti dengan jantung buatan yang bekerja dengan tenaga baterai

Chelios secara amazing sadar dan berhasil melumpuhkan musuh-musuhnya meski dengan jantung buatan. Namun baterai dalam jantung itu tak mampu bertahan lama dan satu-satunya cara untuk mempertahankan denyut jantung Chelios adalah dengan menyetrum dirinya sendiri dengan energi listrik tingkat tinggi  atau dengan gesekan tubuh yang intense. Maka dimulailah petualangan liar Chelios mencari jantung aslinya yang mempertemukannnya kembali dengan Eve (Amy Adams), sang pacar yang kembali dipaksa Making Love di tempat umum. Namun pencarian Chelios kembali diganggu oleh mafia latin, kali ini El Huron (Clifton Collins Jr)  ;ah yang menghambatnya. Akankah Chelios berhasil menemukan kembali jantungnya??

Setelah menyaksikan film ini, gue cuma bisa berkata kalau film ini USELESS !!!! . Tidak seharusnya film ini dibuat karena cuma mengulang formula film pertama ditambah dengan adegan sadis yang super banyak serta adegan sex yang lebih wild dan tidak lupa kata kata kasar yang lebih bervariasi. Film yang diharapkan jadi BLOCKBUSTER malah jadi film sampah. Banyak sekali kebolongan disana-sini, contohnya buat apa Chelios dirawat padahal jelas jelas mafia cina itu mau anggota tubuh Chelios nya saja.

Film ini terselamatkan oleh penampilan begajulan Jason Statham yang tetap memberikan penampilan terbaiknya, despite this movie is a big failure . Tapi sayang para cast lainnya tampil asal-asalan dan seadanya. Amy Smart memang tampil berani tapi malah keliatan kayak slut, Bai Ling yang di tahun 90an cukup berkibar juga tampil buruk dengan tubuhnya yang makin kerempeng sementara David Carradine tak diberi porsi yang berarti, padahal kalau dia ditandingkan dengan Jason Statham pasti keren. Yang tampil lumayan cuma Efren Ramirez yang kocak dan Art Hsu yang tangguh. Dan jangan dilupakan pula penampilan Cameo dari Geri Halliwell (eks Spice Girls) yang berperan sebagai Ibu Chelios.

Adegan favorit gue di film ini adalah saat pembukaan film yang kesannya video game banget dan kelucuan penyakit tourette's syndrome yang diderita Efren Ramirez dan Bai Ling (gue ngakak abis,sumpah...hahaha). Sementara worst scene nya adalah saat pertarungan boneka yang lebih mirip pertarungan antar Ultraman melawan monster luar angkasa (ga banget !!!!)

Kegagalan film ini kembali menjadi pelajaran bagi para filmmaker , jangan sekali-kali berani melanjutkan film yang originalnya saja tak begitu bagus..hahahaha

Wednesday, April 29, 2009

X-MEN ORIGINS ; WOLVERINE : The Beginning Of The Immortal Beast


Tak dapat disangkal lagi kalau tokoh Wolverine merupakan tokoh dalam X-Men yang paling menonjol dan digemari oleh khalayak luas. Kemampuan bertarungnya yang mumpuni dan gayanya yang cool serta cuek itulah yang menjadi alasan. Setelah sukses dengan 3 buah film X-Men, para produser merasa ingin meneruskan franchise ini namun sepertinya penonton sudah agak jenuh dengan kemunculan karakter-karakter di film X-Men yang sudah terlalu banyaksehingga seperti terlihat di film X-Men : The Last Stand, dimana banyak tokoh-tokoh baru yang karakternya tak tergali dengan baik dan hanya terkesan numpang lewat saja.

Dengan pertimbangan kepopulerannya, akhirnya tokoh Wolverine lah yang dibuatkan film terlebih dahulu. Film dimulai pada akhir abad 19, saat James dan Viktor yang nantinya akan menjadi Wolverine dan Sabretooth yang ternyata adalah kakak beradik , melarikan diri dari kejaran massa yang ingin membunuh mereka karena James tak sengaja membunuh ayahnya sendiri dengan cakar yang keluar dari kedua tangannya. Kemudian mereka berdua yang sudah dewasa namun tak pernah menua (they're mutant,remember?) ikut berjuang dalam beberapa perang besar (perang saudara di Amerika, perang dunia, perang vietnam,dll).

Namun lama kelamaan Viktor (Liev Schreiber) semakin memperlihatkan nafsu kejinya (mungkin karena pengaruh peperangan) sehingga merepotkan James (Hugh Jackman). Namun karena mereka tidak bisa mati, akhirnya mereka berdua direkrut oleh Colonel William Stryker (Danny Huston) ke dalam team elite yang terdiri dari mutant-mutant super, ada Wade (Ryan Reynolds) yang mempunyai sabetan pedang secepat kilat namun tak bisa diam, Dukes (Kevin Durand) yang nantinya akan menjadi The Blob, John (Will.I.Am) yang berkemampuan seperti Nightcrawler, Bradley (Dominic Monaghan) yang bisa mengontrol benda mati dengan pikirannya, dan Zero (Daniel Henney) yang punya kemampuan menembak sangat cepat.

Namun James tidak betah berada dalam kelompok ini karena ternyata mereka direkrut oleh Stryker semata untuk kepentingannya sendiri. Akhrinya James meninggalkan tim dan membuat Viktor kesal padanya. 6 tahun berlalu dan James sudah hidup tenang di Kanada dan mempunyai pekerjaan sebagai penebang kayu (Illegal logging kah?hahahha), ia pun hidup bahagia bersama istrinya Kayla (Lynn Collins). Tetapi tiba-tiba ia didatangi kembali oleh Stryker yang semakin menua, Stryker memperingatkan bahwa keselamatan James dalam bahaya setelah Wade dan Bradley tewas dibunuh. 

Ternyata yang membunuh mereka adalah Viktor yang menjadi semakin keji dan menjadi-jadi, sampai akhirnya Viktor menyambangi kediaman James dan membunuh Kayla. James yang ingin membalas dendam berhasil menemui Viktor namun kalah kuat. Di saat itulah datang Stryker yang menawarkan kekuatan super pada James. Disulut dengan amarah yang memuncak akhirnya James mau seluruh tubuhnya disuntikkan Adamantium, sehingga ia menjadi kebal terhadap apapun dan mampu menyembuhkan lukanya sendiri serta tak lupa cakar nya pun menjadi cakar logam adamantium.

James yang telah berganti nama menjadi Wolverine segera mencari keberadaan Viktor, melalui kawan lamanya John dan Duke, Wolverine mengetahui bahwa Viktor berada di sebuah pulau rahasia yang dikelola oleh Stryker (spoiler-spoiler...hehehehe). Tapi karena lokasi yang sangat dirahasiakan, Wolverine kesulitan menemukan tempat itu dan memerlukan bantuan dari Remy Le Beau alias Gambit (Taylor Kitsch) yang mampu mencharge energi ke dalam benda mati. Seperti tipikal film action biasanya, mereka bertarung terlebih dahulu, setelah puas bertarung, mereka berdua pun menuju pulau itu untuk membasmi Viktor sekaligus Stryker yang punya rencana yang membahayakan kelangsungan hidup para mutant....

Secara overall film ini lebih baik daripada film terakhir X-Men karena film ini lebih terfokus ke 1 karakter saja yaitu si empunya judul film (Wolverine maksudnya gan.....hehehe) dengan kemunculan beberapa karakter menarik seperti Viktor, Zero, Deadpool, serta Stryker yang untungnya bisa diarahkan dengan baik oleh Gavin Hood (filmmaker yang membuat Tsotsi). Kemudian adegan action dalam film ini juga bisa dibilang lebih banyak daripada X-men dan lebih oke tentunya. Gavin yang baru pertama kali membuat film blockbuster tidak terlihat gugup,malahan ia dengan fasih mengarahkan adegan klimaks antara Wolverine,Viktor, dan Weapon XI yang menurut gue merupakan adegan paling menghibur di film ini.

Penampilan Hugh Jackman yang sudah melekat dengan tokoh Wolverine terlihat nyaman sekali, kita sebagai penonton pasti akan merasa janggal jika Wolverine tak diperankan olehnya, namun hal ini bisa menjadi bumerang baginya juga karena bermain di film apapun ia akan tetap diingat sebagai Wolverine (seperti Pierce Brosnan dan James Bondnya). Liev Schreiber juga tampil baik dan lebih beremosi sebagai Viktor 'Sabretooth' Creed, Liev yang sudah malang melintang di dunia film namun tetap tak bisa mencapai ketenaran tentu berharap film ini akan mengangkat namanya. Danny Huston yang sudah biasa berperan antagonis kembali tampil mengesalkan dan egois pada film ini. Aktor lain yang cukup menonjol adalah Ryan Reynolds yang sayang cuma tampil sebentar, Daniel Henney,aktor korea yang mencoba peruntungan di Hollywood serta pendatang baru Taylor Kitsch. Jangan lupakan pula kemunculan beberapa tokoh penting di film X-Men di film ini seperti Cyclops,Toad,Storm,Serta Professor X.

Di balik kelebihan yang dimiliki oleh film ini,pasti juga terdapat kekurangannya (buset dah....kata-kata gue udah kayak lagi pidato di balai desa aja...hehehe), menurut gue, film ini punya terlalu banyak cliche film action, seperti tokoh jagoan yang sepanjang film mengejar pembunuh istrinya dan masih banyak lagi deh...tonton sendiri aja....lumayan lah buat menghibur kekalahan gue dari UTS yang sucks abis....

Monday, April 13, 2009

BLINDNESS : What Would You Do If You're The Last People That Can See?


Sebenarnya film ini mempunyai materi yang mumpuni untuk menjadi Box Office, dari Cast nya yang bertabur aktor watak Hollywood (Julianne Moore,Mark Ruffalo, Danny Glover, Gael Garcia Bernal, Alice Braga, & Sandra Oh), kemudian sutradara Fernando Meirelles yang sudah berpengalaman dalam mengarahkan film jempolan macam The Constant Gardener dan City Of God, dan dari segi cerita film ini juga cukup orisinil. Tetapi mungkin karena produser film ini kurang berani menayangkan di major theatre maka jadilah film ini bergerilya dan tak memperoleh hasil yang memuaskan

I bet you all don't even know that this movie exist, don't you? but i do recommend this movie, this movie is great !!!!

Di sebuah negara antah berantah tiba-tiba terjadi gejala yang aneh dan tanpa sebab, gejala itu adalah kebutaan yang langka dan bahkan belum pernah ada di dunia, karena jika biasanya kebutaan terjadi secara perlahan dan seluruh pandangan menjadi gelap, maka pada kasus ini kebutaan terjadi secara tiba-tiba dan seluruh pandangan menjadi terang / putih (what a nice idea). Kebutaan ini lambat laun mewabahi penduduk di negara itu dengan cara penularan yan juga tak diketahui. Pemerintah negara segera mengambil langkah cepat dengan mengkarantina para penderita kebutaan itu.

Doctor(Mark Ruffalo)  adalah seorang dokter mata yang pertama kali menemukan penyakit ini karena seorang asia (Yusuke Iseya) memeriksakan penyakit ini padanya dan keesokan harinya Doctor pun mengalami kebutaan namun tidak dengan istrinya (Julianne Moore). Saat ingin dibawa ke karantina, Sang istri mengaku bahwa matanya juga mengalami kebutaan karena tak ingin jauh jauh dari sang suami. 

Di dalam pengkarantinaan itu pertama hanya ada beberapa orang saja, namun seiring dengan penyebaran penyakit yang semakin cepat, semakin banyak orang yang tinggal disana. Dan dimulailah kehidupan di dalam karantina yang sangat menyedihkan itu.Doctor yang terpilih menjadi ketua di Ward 1 (setiap karantina dibagi menjadi 3 ward) menjalankan tugasnya dengan sangat baik karena ia dibantu oleh sang istri yang menjadi satu-satunya orang yang bisa melihat disana. Namun keadaan berubah menjadi kacau saat ketua dari Ward 3 (Gael Garcia Bernal) mulai mengambil alih pendistribusian makanan dengan tindak kekerasan.

Ketua ward 3 yang seluruh anggotanya lelaki ini meminta perhiasan dan harta berharga lainnya kepada ward lain agar dapat memperoleh makanan (bedon juga dia...udah jelas semua ga bisa liat....buat apa juga perhiasan), kemudian saat nafsu binatang para lelaki itu muncul, mereka meminta dipuaskan oleh wanita di tiap ward dengan ganti memberikan ward tersebut jatah makanan (bejat banget dahhh). Doctor's wife yang ajaibnya masih bisa melihat pun tidak tahan lagi dengan tingkah laku mereka dan melancarkan pembalasan yang nantinya akan memunculkan peperangan dalam karantina tersebut.

Julianne Moore berhasil menanggung beban berat yang diberikan padanya di film ini, sebagai tokoh guide yang paling diandalkan di film ini, ia sangat tegar dan kuat dalam menghadapi cobaan-cobaan, dedikasi dan rasa cinta terhadap suaminya pun sangat besar sehingga ia rela ikut masuk ke karantina. kharismanya yang sempat hilang beberapa tahun terakhir (terakhir ia bermain bagus sebagai single mother di film tahun 2004, The Forgotten) akhirnya kembali lagi, Mark Ruffalo bermain cukup bagus sebagai pemimpin yang juga seorang peragu sementara Gael Garcia Bernal sukses berperan sebagai penjahat yang sangat dibenci. Penampilan Danny Glover dan Alice Braga juga cukup menyegarkan meski mendapat peran yang tak begitu penting.

Fernando Meirelles cukup cerdik dengan mengecilkan ruang lingkup film, jadi meski film ini bertema disaster namun jatuhnya tidak seperti The Day After Tomorrow atau Knowing yang lebih cenderung ke global disaster. Jadi film ini bisa dibilang Mini Disaster. Dengan menghadirkan ketegangan serta konflik di dalam ruang tertutup itu Meireles mampu membuat kita merasa hadir dalam karantina tersebut dan ikut merasakan penderitaan mereka dan saat mereka berhasil keluar dari karantina tersebut, Meireles juga berhasil menciptakan suasana kota yang kacau balau karena penuh dengan orang buta. Bisa dibilang Meireles semakin berkembang di film ini. Gue tidak bosen pada film ini meski durasinya 2 jam

Namun ada 1 hal yang benar-benar mengganggu gue, saat adegan pemerkosaan masal. Kenapa Doctor's Wife yang bisa melihat tidak melawan saja ?? (mana ada orang bego yang mau diperkaos sama orang buta) benar benar sebuah adegan yang tak perlu dan ridiculous. But overall, this movie is worth to watch before your sight goes white too

Thursday, April 9, 2009

KNOWING : The End Is The New Beginning


Sudah cukup banyak film yang menceritakan tentang the end of the world, kebanyakan lebih menekankan pada unsur actionnya macam Armageddon(1998), The Core(2003), & The Day After Tomorrow(2004)  dan War Of The Worlds(2006),bahkan Arnold The Governor pernah mencegah iblis yang akan mengakhiri dunia di End Of Days(1999) tetapi Mimi Leder pernah membuat Deep Impact(1998) yang lebih drama dan kurang porsi actionnya.Film ini menurut gue lebih mirip dengan Deep Impact namun Alex Proyas dengan brilliant memasukkan unsur suspense sehingga film ini terkesan menegangkan dan tak tampak seperti film End Of The World lain yang biasanya penuh dengan unsur action dan romantisme.

Cerita diawali dengan dibukanya kapsul waktu pada tahun 2009 di sebuah SD yang berisikan hasil karya anak anak SD tersebut pada tahun 1959. Semua murid SD pada tahun 2009 mendapatkan gambar-gambar yang penuh imaginasi, tapi Caleb (Chandler Canterburry), anak cerdas yang mempunyai kelainan pada pendengarannya malah mendapatkan secarik kertas yang bertuliskan angka-angka yang acak. Ayah Caleb, John Koestler (Nicolas Cage) yang merupakan seorang Profesor di bidang astronomi (atau semacam bidang itulah) melihat kertas itu dan menemukan kejanggalan pada kertas itu.

Setelah semalaman melakukan penyelidikan terhadap angka-angka tersebut,ia mendapati bahwa angka-angka di dalam kertas itu menunjukkan tanggal dan lokasi di mana sebuah bencana besar akan terjadi serta jumlah korbannya selama 50 tahun terakhir!!!!, John yang mencoba mengemukakan teorinya kepada temannya yang sesama profesor menemui jalan buntu dan akhirnya ia mendatangi lokasi yang menurut kertas itu akan terjadi bencana besar berikutnya dan ternyata sebuah pesawat jatuh di lokasi tersebut dan memakan banyak korban jiwa.

John yang mulai paranoid semakin paranoid saat tahu bahwa anaknya suka didatangi oleh kawanan berbaju hitam yang suka berbisik dalam pikiran Caleb dan selalu membawa batu hitam dalam berbagai pemunculannya (kayak Ponari aja bawa batu celup kemana-mana,hahahaha). Kemudian John memutuskan mencari Lucinda Embry, orang yang telah menulis ramalan itu pada tahun 1959. 

Sayang,Lucinda sudah meninggal beberapa tahun lalu, namun John beruntung karena Lucinda ternyata punya seorang anak bernama Diana Wayland (Rose Byrne) yang sudah menjadi single parent dari Abby (Lara Robinson) yang juga suka mendapat bisikan aneh seperti Caleb. Mereka kemudian bersama-sama mencoba mencari rahasia yang disimpan oleh Lucinda dan menemukan bahwa bencana terakhir yang akan terjadi adalah bencana besar yang akan membunuh semua orang. Akankah John berhasil menghentikan bencana tersebut??

Knowing is not the typical of save the world movie, there's more in this movie such as the suspense and the bond between father and son. Alex Proyas ,sutradara yang suka membuat film bertemakan kesuraman (The Crow,Dark City,& I,Robot)berhasil menggelapkan karakter Will Smith dalam I,Robot kali ini berhasil menyulap Nicolas Cage yang biasanya bermain datar menjadi seorang ayah yang sangat emosional, tak ada lagi jiwa detektif (2 film National Treasure) yang sempat muncul saat ia memerankan pembunuh bayaran di Bangkok Dangerous (it's really annoying). Proyas juga berhasil menanamkan suspense yang sangat pekat ke dalam film ini, adegan disaster digarap dengan sangat apik dan sempurna. Ia pun mampu membuat seram penonton saat para pembisik muncul (two thumbs up for Proyas)

Gue sebenarnya kurang suka sama Nic Cage, menurut gue dia kurang pas bermain dalam film action apapun, dia lebih cocok bermain di film drama berbobot macam Adaptation,Leaving Las Vegas,dll karena dia itu bisa akting. Namun di film ini gue sejenak bisa meredakan kebencian gue terhadap Nic Cage & His Bad Hairstyle yang ga pernah berubah di tiap tiap film yang dimainkannya belakangan ini (rambutnya selalu hampir botak dari National Treasure,Next,Bangkok Dangerous sampai film ini). Ia sukses melakukan one man show dalam film ini dan mampu berperan sebagai seorang ayah yang sangat sayang terhadap anaknya dan rela melakukan apa saja demi keselamatan anaknya. Jadi inti dari film ini bukan merupakan penyelamatan dunia tetapi lebih pada penyelamatan kepada orang yang kita cintai di dunia ini.

Gue hampir memberi nilai positif untuk film ini sampai endingnya muncul...ternyata.....watch out for spoiler alert....... Para Pembisik berbaju hitam yang suka mendatangi Lucinda,Abby,dan Caleb adalah Alien yang mencoba memberi tahu tentang kiamat yang tak dapat dihindari lagi melalui kejadian-kejadian tragis yang menimpa dunia selama 50 tahun terakhir dan mereka yang mampu mendengar bisikan itulah yang nantinya akan terpilih untuk memulai kehidupan baru di planet baru

Film ini sebenarnya sangat seram untuk disaksikan karena menurut ramalan suku MAYA pada  tahun 2012 akan terjadi kiamat seperti di film ini, dan film ini pun mengambil suatu ramalan mengenai tahun 2012 sekaligus makna yang dalam bagi para umat manusia yaitu "banyak yang dipanggil tetapi hanya sedikit yang terpilih"

Ini sebenarnya tak ada kaitan dengan film ini, tetapi gue rasa PONARI, dukun cilik dari Jombang itu kan juga punya batu sakti tuh,mungkinkah dia mendapatnya dari kaum alien???? ataukah itu pertanda bahwa akhir dunia semakin dekat??

ONLY GOD KNOWS WHY.........

Wednesday, April 8, 2009

SHINJUKU INCIDENT : The Other Side Of Jackie Chan's Acting Career


Kalau mendengar nama Jackie Chan, yang terlintas di pikiran gue adalah seorang aktor laga legendaris yang selalu rajin berakrobat serta bertarung tanpa menggunakan stuntman dalam masterpiece-masterpiece nya, namun seiring dengan bertambahnya usia Jackie, ia pun mencoba merubah imagenya dengan mengurangi adegan laga dan memperbanyak porsi drama dalam filmnya.

Jackie mencoba melakukan hal itu di Rob-B-Hood yang lebih merupakan sebuah komedi keluarga, namun karena permintaan para produser Hollywood untuk kembali ke Jackie yang aslinya makan Jackie pun kembali berduet bersama Chris Tucker di Rush Hour 3 dan The Forbidden Kingdom yang tidak begitu bagus menurut gue.  

Di film yang diproduseri oleh dirinya sendiri  ini akhirnya Jackie membuktikan ucapannya dengan meninggalkan trademarknya yang sudah puluhan tahun menghibur para penonton dan mencoba berganti kulit menjadi aktor watak seperti Chow Yun Fat atau Andy Lau (Dugaan gue dia berani untuk melakukan hal ini karena tak ada tekanan dari bos-bos besar Hollywood secara film ini baru release di USA sekitar September tahun ini)

Film yang disutradarai Derek Yee ini diawali dengan munculnya banyak imigran Cina di pantai Jepang, kemudian layar beralih ke Steelhead (Jackie Chan) yang juga merupakan imigran Cina yang pergi ke Jepang dengan tujuan untuk mencari kekasihnya,Xiu-Xiu (Xu Jing Lei) yang tak terdengar lagi kabarnya. Di Jepang, Steelhead bertahan hidup dengan sesama imigran seperti AJie (Daniel Wu), Little Tai (Ken Lo), dll (kebanyakan merupakan bintang veteran yang juga kerabat dari Jackie Chan) dengan cara menjadi buruh kasar.

Kehidupan imigran Cina di Jepang sangatlah menderita, selain miskin mereka juga suka dikejar pihak yang berwajib dan berurusan dengan Mafia Jepang yang sangat sadis dan tanpa kompromi. Melihat ketidakadilan tersebut Steelhead mulai membangun mental sesam imigran dan menjalin hubungan dengan mafia Jepang yang nantinya akan membahayakan dirinya.

Film ini tak dapat diceritakan dengan lengkap karena terdapat banyak intrik di dalamnya yang lebih baik ditonton sendiri saja daripada diceritakan disini. Sebagai gambaran saja, menyaksikan film ini mengingatkan gue kepada film film gangster Andy Lau dan Ekin Cheng yang bertebaran di tahun 90an, tetapi setting dipindah ke Jepang dan lebih mengulik kehidupan mafia Jepang lebih dalam yang hampir tak berani diusik oleh kepolisian

Jackie Chan berhasil tampil apa adanya meski gua sangat merindukan adegan-adegan actionnya yang kocak dan jenaka. Perubahan yang dilakukannya cukup bagus dengan melakukan adegan menangis,sex,serta tidak banyak tersenyum. Namun yang paling berhasil dalam memaksimalkan kemampuan aktingnya adalah Daniel Wu yang sangat baik memerankan tokoh Ajie yang pengecut kemudian berubah menjadi tokoh yang cuek setelah kejadian tragis yang menimpanya.

Di deretan aktor jepang, penampilan Naoko Takenaka sebagai kepala polisi yang bersimpati kepada Steelhead cukup baik, begitu juga Masaya Kato yang berperan sebagai Eguchi, partner in crime Steelhead. Namun yang cukup mengagetkan adalah munculnya Yasuaki Kurata (yang di film ini tidak beradegan action) dan Hiroyuki Sanada (yang tak begitu menonjol di film ini).Sementara untuk pemanis film dipakailah Fan Bing Bing yang cantik dan Xu Jing Lei yang berwajah ayu tetapi keduanya berakting biasa saja dan pengkarakterisasian mereka tak digali lebih dalam lagi

Derek Yee yang baru pertama kali  bekerja sama dengan Jackie Chan sudah terbiasa mengarahkan film gangster seperti ini (ex : Protege nya Andy Lau ) sehingga menurut gue ia cukup berhasil menampilkan kehidupan imigran cina di Jepang beserta mafia Jepangnya dan segala detailnya serta memutar otak penonton dengan rentetan adegannya yang penuh dengan kekerasan serta kesadisan (that's what gangster movie is all about). Dengan durasi yang cukup lama, moviegoers sejati yang mengutamakan isi film dan acting para aktornya pasti terhibur namun jika penonton menunggu aksi berbahaya Jackie Chan sepertinya harus agak kecewa karena di film ini Jackie diceritakan tak bisa bertarung namun mempunyai otak yang cemerlang dan keberanian yang berlapis

Saturday, April 4, 2009

FAST & FURIOUS : All Gang's Here


Setelah Tokyo Drift gagal menjadi Box Office, produser franchise The Fast & The Furious segera belajar dari kesalahan mereka yang tak menggunakan pemain bintang dalam film yang bersetting di Tokyo itu dan langsung menghubungi Paul Walker yang sudah lama tak bermain di film mainstream (terakhir ia tampil tidak menonjol di Flags Of Our Father nya Clint Eastwood) & Vin Diesel yang terakhir tampil buruk di Babylon A.D untuk menyelamatkan Franchise sekaligus mengembalikan modal besar yang dikeluarkan produser saat menggarap Tokyo Drift.Gue rasa karena mereka berdua memang sedang butuh film yang bisa mengangkat kembali popularitas mereka,maka tanpa pikir panjang mereka kembali bersatu di film ini, Jordana Brewster dan Michelle Rodriguez pun kembali ke jajaran pemain (bisa dibilang mereka kembali bergabung karena faktor comebacknya Paul dan Vin Diesel).

Film diawali dengan adegan Dominic Toretto (Vin Diesel) & Letty (Michelle Rodriguez) beserta Han (Sung Kang,yang juga tampil di Tokyo Drift)  berusaha merampok truk gandeng yang bermuatan emas hitam dengan cara yang spektakuler dan sulit dibayangkan. Bagi yang melewatkan adegan pembukaan ini maka pasti akan menyesal coz this is the best scene of the movie

Singkat kata,Dom dkk berhasil merampok emas hitam tersebut dan membuatnya semakin dicari FBI. Karena takut membahayakan keselamatan Letty dan Mia (Jordana Brewster),adik Dom, maka Dom pun menyingkir ke Panama. Namun Dom segera kembali ke L.A saat mengetahui kalau Letty tewas karena kecelakaan mobil. Saat ia bersama Mia mendatangi crime scene, Dom merasa ada keanehan di Crime Scene dan memutuskan untuk menyelidiki kematian istri yang sangat dicintainya.

On the FBI side, there's Brian O'Connor (Paul Walker), mantan teman Dom dan ex Boyfriend Mia yang sedang mengusut kasus penyelundupan cocaine dari Amerika Tengah ke Amerika Utara. Penyelidikannya ternyata berujung sama dengan penyelidikan Dom. Meski Dom tidak mempercayai Brian lagi yang dulu menipunya (Brian mengaku sebagai pembalap jalanan padahal dia hanya menyamar di The Fast & The Furious original), mereka terpaksa harus bekerja sama untuk mengungkap bisnis ilegal besar-besaran yang belakangan diketahui merupakan ulah dari Braga (John Ortiz),kartel mafia besar yang kejam dan juga dalang dibalik tewasnya Letty

Setelah menyaksikan opening scene yang sangat "wah" dan adegan kejar-kejaran antara Brian dan seorang thug, gue mengharapkan bakal ada adegan yang lebih keren lagi, tapi nyatanya tidak ada adegan yang membuat gue terkagum-kagum lagi. Adegan klimaks di terowongan menurut gue terlalu gelap dan membingungkan (I don't know who is chasing who) dan ada beberapa adegan di pertengahan film yang agak boring but overall Justin Lin's directing skill is improving after failed to direct Tokyo Drift in a better way

Vin Diesel yang selalu cool tampil semakin sangar dan gahar dengan tubuh yang semakin besar namun tetap lincah, sedangkan Paul Walker semakin keren meski tetap dengan perilaku Bad Boy nya.Menyaksikan mereka berdua kembali berpartner benar-benar sebuah kesenangan tersendiri bagi gua karena Fast & Furious franchise memang sudah di cap punya mereka berdua bukan Tyrese Gibson ataupun Lucas Black Jordana Brewster tampil feminim padahal gue berharap dia bisa jadi dangerous tough girl namun porsinya di film ini agak sedikit berkurang dibandingkan sebelumnya. Yang paling kasihan itu Michelle Rodriguez yang sukses memukau penonton dalam breathtaking opening scene tapi dimatikan begitu saja. Dua tokoh baru yang muncul di film ini adalah Braga yang dimainkan dengan culas oleh John Ortiz dan Gisele yang diperankan oleh Supermodel keturunan Yahudi yang sangat sexy bernama Gal Gadot

Meski cerita di film ini terkesan klise (it's all about revenge and revenge) namun tampaknya para produser sudah belajar dari kegagalan Tokyo Drift dengan lebih memperkaya script sehingga film yang menurut gue punya adegan car chase yang oke-oke ini tidak kosong melompong. Tapi kenapa para produser tidak bisa memilih judul yang lebih layak daripada hanya FAST & FURIOUS, tanpa ada embel embel lagi malah.....tentunya akan sangat ambigu dengan film pertamanya (THE FAST & THE FURIOUS)

Harus diakui,mobil-mobil yang dipamerkan di film ini sangat keren dan teknologi GPS nya pun sangat mumpuni namun Banyak sekali adegan nonsense di film ini dan yang paling konyol ada adegan sabung ayam pula....hahahhaa..intinya tidak usah terlalu banyak mikir dah....just enjoy the ride amigos....vaya con dios....

Friday, March 27, 2009

DRAGON BALL EVOLUTION : SUCCESFULLY RUIN MY CHILDHOOD MOMENTS


Semua orang di Indonesia yang seumuran dengan gue pasti pernah membaca komik Dragon Ball Z pada waktu kecil (gue aja punya komiknya lengkap...hehehe). Komik karangan Akira Toriyama ini entah kenapa punya suatu hal yang membuat semua orang ingin terus mengetahui kelanjutan kisah SonGoku dan kawan-kawannya mencari 7 bola naga.

Sedari awal film ini sudah dikisahkan secara melenceng dan tidak sesuai dengan komiknya, SonGoku (Justin Chatwin dalam penampilan yang sangat cool) yang beranjak remaja merupakan remaja SMA yang kuper (loh,emanknya SonGoku pernah sekolah??) dan menyimpan perasaan kepada ChiChi (Jamie Chung). Namun di balik kekuperannya itu dia punya kekuatan super hasil ajaran kakeknya, SonGohan (Randall Duk Kim)

Di sisi lain diceritakan juga kemunculan Iblis jahat,Piccolo (James Masters) yang sedang mencari 7 buah Dragon Ball yang niscaya mampu mengabulkan satu permintaan pengumpulnya (gue sendiri masih bingung apa yang akan diminta oleh Piccolo, entah kekekalan atau kekuasaan). Dengan bantuan anak buahnya, Mai (Eriko Tamura), Piccolo berhasil melacak keberadaan Dragon Ball ke 4 yang dimiliki oleh SonGohan.

Tanpa banyak perlawanan,Gohan mati di tangan Piccolo.Sebelum mati,Gohan berpesan kepada Goku untuk mencari Master Roshi (Chow Yun Fat). Dalam perjalanan mencari Master Roshi, Goku bertemu Bulma (Emmy Rossum) dan Yamcha (Joon Park) yang turut membantunya membalaskan dendam kakeknya serta mencari bola naga juga.Dalam perjalanan itulah Goku menemukan jati dirinya serta cintanya

Plot yang sangat membosankan ini bisa dikembangkan menjadi sangat menarik oleh Akira Toriyama di komiknya, tapi sayang film ini tak dapat melakukan hal yang sama. Dangkalnya plot film ini ditambah dengan kurang mulusnya adaptasi dari komik ke layar lebar (sangat sulit menikmati 13 Komik dirapatkan menjadi film yang tak sampai 2 jam) membuat film ini terlihat membosankan meski special effect dalam film ini lumayan bagus.

James Wong yang dahulu berhasil mencekam penonton di Final Destination dan menghibur pecinta Jet Li dalam The One tak berhasil menciptakan suasana komikal dalam film ini,alih alih dia malah menambahkan suasana futuristik yang menurut gue tidak perlu. Kemudian dalam hal perpindahan adegan juga banyak sekali adegan yang dipaksa atau dirapatkan.

Jadi satu adegan belum selesai sudah muncul adegan lainnya,Sang Sutradara terkesan buru buru ingin menyelesaikan film ini,sebagai contoh, adegan Tenka Ichi Budokai yang menjadi primadona di komik hanya ditampilkan sekilas di film ini(huh......). 

Dari koreografi actionnya sama sekali tidak ada yang menonjol, yang paling lumayan hanya adegan pembuka antara Goku dan Gohan yang cukup mengundang decak kagum penonton,selebihnya benar-benar standard,bahkan adegan klimaks film ini benar benar basi, diselesaikan secepat mungkin, musuh yang diceritakan sangat kuat berhasil dikalahkan Goku yang masih remaja dengan sekali kamehame(cuihhhhhh)

Dan kelemahan yang paling menonjol dalam film ini adalah tak adanya pendalaman karakter, setiap tokoh diperkenalkan secara elegan (kemunculan ChiChi yang seksi atau Kelucuan Master Roshi) namun setelah itu tokoh tersebut tak dikembangkan dan malah muncul tokoh-tokoh lain yang tak dikembangkan juga karakternya.

Okelah, Justin Chatwin tampil sangat cool tapi dia benar-benar tidak mirip SonGoku dalam komik yang diceritakan slengean waktu remajanya, Emmy Rossum dan Jamie Chung menjadi penyegar dalam filmi ini,kostum yang dipakai mereka benar benar menjual 'aset' mereka (wkwkwkwk).Yang patut diberi pujian adalah Chow Yun Fat sebagai Master Roshi yang kocak, walaupun ia belum mampu melepaskan kesan serius yang biasa dimainkannya,tetapi dia sudah mencoba untuk menjadi kocak. Yang kurang adalah kemesumannya yang tak banyak muncul (maklumlah film ini ratingnya cuma PG). Aktor dan aktris lainnya terkesan hanya sebagai tempelan saja, tak ada yang mengena di hati.

Secara overall, Dragon Ball Evolution sebaiknya tidak dibuat sekuelnya lagi karena akan merusak masa kecil orang banyak, lagipula rating film ini yang PG (Parental Guidance) dirasa kurang pas, jarang sekali film action dengan rating PG mampu merajai Box Office kecuali film kartun ya.

Friday, March 13, 2009

QUARANTINE : WHEN DOG BITES WENT WORSE


Quarantine  adalah sebuah film remake dari film spanyol yang cukup sukses berjudul Rec yang dibuat dengan cara indie tapi ditayangkan secara luas.  Memang gaungnya kurang terdengar baik dalam dunia atas (blockbuster) maupun dunia bawah (indie), ya bisa dibilang film medioker lah kalau ga mau disebut B Movie tetapi setidaknya film ini memberikan ketegangan yang cukup intense bagi diri gue pribadi.

Angela (Jennifer Carpenter) adalah seorang reporter acara Night Shift yang sedang meliput kegiatan para firefighters (khususnya Jake (Jay Hernandez) & Fletcher(Johnathon Schaech) ) bersama sang kameramen, Scott (Steve Harris). Mereka mendapat panggilan emergency dari suatu apartemen di pinggiran kota. Saat mereka berempat sampai, sudah ada 2 polisi di TKP. Ternyata ada seorang wanita tua yang berteriak-teriak seperti orang gila di kamarnya. Saat ingin diamankan tiba-tiba wanita tua itu menggigit salah satu polisi dan seketika apartemen dikunci dari luar oleh pihak berwajib. 

Rupanya apartemen tersebut diisolasi karena diduga menjadi sumber munculnya penyakit rabies aneh yang membuat makhluk yang terkena virus ini akan menjadi beringas dalam sekejap. Keadaan semakin gawat saat Fletcher juga tergigit. Setelah semua penghuni apartemen berkumpul, mereka segera mencari jalan keluar. Namun mereka harus cepat karena penghuni apartemen semakin banyak yang terinfeksi, berhasilkah mereka???

Sekilas, plot dari film ini benar-benar dangkal, namun sang sutradara John Erick Dowdle dengan cerdik mengakali plot yang lemah dengan menshoot seluruh adegan film dengan handheld camera yang tidak steady,pernah nonton Cloverfield kan? nah point of view nya persis banget sama filmnya JJ Abrams itu. Tapi film ini terkesan lebih mencekam karena sang sutradara mampu membangun atmosfer yang ganjil di dalam apartemen tersebut.

Jennifer Carpenter yang sebelumnya bermain "kesetanan" dalam The Exorcism of Emily Rose kembali bermain bagus dalam film ini, transformasi karakter yang dilakukannya memang kurang sempurna (dari seorang reporter yang mengejar berita sepenuh hati sampai menjadi seorang paranoid yang takut gelap), namun usahanya patut diberi pujian mengingat dialah jiwa dalam film ini. Cast lainnya kurang menonjol kecuali Jay Hernandez yang tampil cukup heroik.

Adegan demi adegan berjalan cukup mulus dan menegangkan, sang sutradara pun dengan brilliant mampu memanfaatkan kamera handheld dengan baik (ada adegan infrared serta penggunaan kamera itu sendiri sebagai senjata)

Meski di dalam film dijelaskan mengapa penyakit ini muncul namun kesan mengisolasi dan mengevakuasi semua orang di dalam kota terkesan sangat terburu-buru karena beberapa jam sebelumnya belum ada berita tentang kejadian ini (Angela masih meliput kegiatan para pemadam di dorm nya). Pokoknya banyak sekali hal yang janggal dalam film ini. Dan yang paling janggal adalah endingnya, if u don't want to know the ending, just stop reading now!

Endingnya sangat sucks, karena sepanjang film kita seakan diikutkan dalam usaha para orang yang terkarantina secara paksa untuk mencari jalan keluar, tetapi hasilnya tetap nihil. Semua mati satu persatu dengan sadis. Please deh, that's not a good formula for a thriller movie, it's frustrating

Monday, March 9, 2009

PUSH : Action Movie With A Rare Touch Of Drama


Sebelum nonton film ini, gue pikir film ini akan mirip-mirip dengan Jumper nya Doug Liman, secara pemeran utamanya sama sama keren terus sang pemeran utama juga punya kekuatan super yang keren. Dan gue kira film ini disutradarai oleh Doug Liman juga. Ternyata gue salah. Film ini di-direct oleh Paul McGuigan. Who is him? Jika semua orang mengernyitkan dahinya, Gue enggak. Gue tau Sutradara asal Britania Raya ini merupakan sutradara yang sangat nyentrik, coba deh saksikan Lucky Number Slevin (Film action yang nyentrik dan tidak action) atau Wicker Park yang kedua-duanya dibintangi oleh Josh Hartnett yang juga diarahkan olehnya. You will amazed by his ability to bring a comfortness in the movie. Oke, in my opinion. McGuigan sukses membuat sebuah drama yang menarik tapi ia belum begitu teruji dalam membuat film full action yang komersil (Lucky Number Slevin agak membosankan dan tidak bisa dibilang film full action). Oleh karena itu you all can give him an ecxuse if this movie fails, his first timer for Christ's sake.

Inti cerita film ini cukup ringan namun berhasil dibikin njelimet oleh McGuigan (kesuksesan atau kegagalan nih?). Diceritakan eksperimen yang dilakukan oleh Nazi menimbulkan banyak manusia memiliki kekuatan super yang berbeda-beda tersebar di seluruh pelosok dunia dan Nick (Chris Evans) adalah seorang Mover (mampu menggerakkan barang barang tanpa disentuh) generasi kedua yang sudah lama hidup dalam persembunyian di Hongkong. Tiba-tiba ia didatangi oleh Cassie (Dakota Fanning)  yang mempunyai kekuatan untuk melihat masa depan (Watcher). Cassie meramal bahwa mereka berdua akan mati jika tak berhasil menemukan seorang gadis (Camilla Belle) yang juga dicari-cari agen dari DIVISSION (semacam perkumpulan untuk orang-orang "istimewa" itu) pimpinan Henry Carver (Djimon Hounsou).

Tampaknya McGuigan masih tetap menampilkan style uniknya dalam film ini. Tercatat ada 3 elemen dalam film ini yang hampir sama dengan elemen di film McGuigan sebelumnya (Wicker Park). Pertama, adanya suara-suara para tokoh yang kadang terngiang-ngiang / bergema dalam pikiran sang tokoh (agak mengganggu karena adegan seperti ini merupakan cliche element dalam B Movie). Kedua, pengambilan gambar yang terkadang menggunakan kamera handheld yang banyak bintik-bintiknya (sangat tidak cocok untuk film action seperti ini). Dan yang terakhir adalah musiknya yang terkadang eksplosive dan terkadang comforting (benar-benar sesuai dengan tone dari film ini).

Untuk casting dalam film ini cukup menarik untuk diulas juga. Chris Evans sebagai tokoh utama tampil tak menonjol (biasa-biasa saja, tak ada peningkatan), ya bisa dibilang menjadi titik lemah dalam film ini (sama halnya dengan akting kaku namun kerennya Hayden Christensen di Jumper). Camilla Belle yang sangat cantik tampil anggun dan kalem namun mematikan dan sangat cocok dengan kemampuannya sebagai Pusher (by the way pusher itu bukan kemampuan untuk mendorong secara fisikal tapi merupakan kemampuan untuk mendorong seseorang untuk melakukan hal yang kita inginkan dengan cara memanipulasi pikiran korban). Camilla sangat berpeluang besar menjadi the next Kate Winslet asal tidak banyak bermain di film besar yang flop (cukup 1001 BC saja). Sementara Dakota Fanning, aktris cilik penuh bakat yang sudah jadi ABG tetap berakting natural dan dewasa (seperti biasa, tak sesuai dengan umurnya). Yang paling menyedihkan adalah akting dari Djimon Hounsou yang benar-benar menyedihkan dan tak berkembang. kemunculan Cliff Curtis sebagai Shifter yang penuh style, Neil Jackson (villain dari Quantum Of Solace) serta Lu Lu (yang sangat mirip model papan atas kita, Dominique) cukup menyegarkan. sementara penampilan dua bintang seri televisi Amrik yaitu Ming Na (Punggawa E.R) yang sudah lama tak main dan Joel Gretsch(The 4400) film tampil standar.

Kelebihan film adalah keberanian McGuigan untuk keluar dari stereotype film action (setting utama selalu di Amerika atau Eropa) dan men-setting keseluruhan film di Hongkong. Sebenarnya langkah ini bisa menjadi bumerang karena film yang full bersetting di luar Amerika itu biasanya adalah film seni macam Lost in Translation atau Code 46 dan film action kelas B yng dibintangi oleh JCVD atau Steven Seagal. But it looks like McGuigan really impress me with his choice of setting. Dan jangan dilupakan spesial efek yang cukup oke.

Dan McGuigan jugalah yang menjadi titik lemah utama dalam film, terlalu banyak adegan silence yang menurut gue tidak perlu-perlu amat (this is a action movie not a contemporer drama or a mistery drama,dude). Selain itu McGuigan juga membuat kesalahan fatal dengan mengakhiri film ini dengan cara yang dilakukan oleh sutradara film kelas B yaitu ending yang cukup menggantung, maunya sih dibuat film sekuelnya. Tetapi ingat, film-film action yang sukses bersekuel-sekuel sama sekali tak pernah menggantung endingnya di film originalnya (remember the ending of The Matrix, Lethal Weapon, or The Bourne Identity?).

So, Is McGuigan a WATCHER too?? can he sees the sequel coming in a few years?? I Don't Think So Mate

Thursday, February 12, 2009

Doomsday : Rhona Mitra Doomed It All


Sebuah virus ganas menyerang Inggris pada tahun 2008. Virus yang tak diketahui dari mana asalnya itu bisa menyebabkan orang yang terinfeksi olehnya berubah menjadi mayat hidup. Pemerintah Inggris memutuskan untuk mengkarantina wilayah utara (dari Newcastle sampai Glasgow,Scotland) serta meninggalkan orang-orang yang masih berada di wilayah yang dinamakan “Hot Zone” tersebut untuk mencegah menyebarnya virus itu. Mereka membangun tembok yang sangat tinggi dan dilengkapi dengan machine gun yang siap menembak setiap makhluk hidup yang mencoba mendekati perbatasan itu.

Tiga dekade kemudian, tepatnya tahun 2035, Virus ganas yang dinamakan The Reaper itu kembali muncul di London. Dari pengamatan Satelit, diketahui bahwa terdapat tanda-tanda kehidupan di Glasgow. Dalam keputusasaan, pemerintah Inggris memutuskan untuk mencari antivirus yang mungkin saja ada di Glasgow. Dipimpin oleh Eden Sinclair (Rhona Mitra), sekelompok pasukan ditugaskan untuk mencari Charles Kane (Malcolm McDowell) yang dipercayai punya antidote untuk virus The Reaper.

Tidak disangka-sangka, Eden dan kawan-kawannya disambut oleh sekelompok punk-ass hooligans berdandan gothic (sepertinya Neill Marshall mencontek Franchise Mad Max nya Mel Gibson) yang dipimpin oleh Sol (Craig Conway). Serangan dari Hooligans yang juga kanibal ini berhasil membunuh banyak anak buah Eden, hingga tersisa Eden, Sgt.Norton (Adrian Lester), dan Dr.Stirling (Darren Moffitt). Mereka berhasil kabur dari Sol dan anak buahnya dibantu oleh Cally yang ternyata merupakan anak dari Kane. Berhasilkah mereka mendapatkan apa yang mereka mau???

Ide cerita film ini sepintas mirip dengan 28 Days Later (2003), namun kali ini Neil Marshall, sutradara dengan trademark gore scenesnya lebih memperbanyak adegan combat action demi memuaskan mata para pecinta film action. Tidak ada penjelasn detail tentang virus ”The Reaper” karena film ini memang lebih fokus dalam memacu adrenaline penonton daripada menjelaskan secara ilmiah tentang virus "The Reaper".

Pemilihan Rhona Mitra sebagai Eden Sinclair sangat tepat menurut gue coz she’s really kick ass. Tidak terpancar kegentaran di matanya saat menghadapi kaum kanibal ataupun prajurit berjubah besi. This is truly her one woman show. Disini ia terlihat mirip dengan Charlize Theron di film Aeon Flop (eh Aeon Flux…hehehe). Selain dia, Adrian Lester yang lebih dikenal sebagai conman di film seri Hustle juga cukup menarik simpati. Penampilan “gila” Craig Conway sebagai Sol yang tangguh menambah nilai plus untuk film ini.

Memang terdapat banyak adegan non-sense yang mengejutkan dalam film ini seperti Kane yang membangun kerajaan lagi di Scotland. Keromantisan antara Dr.Sterling dan Cally pun terkesan dipakasakan but I still want to give my two thumbs up to Neill Marshall. Why? Coz he can make this B-Movie really entertaining. Especially the longest pumping adrenaline car chase scene I’ve ever seen since The Bourne Supremacy (2004). Watch this movie but forget all about the non-sense. Just enjoy the ride. ^^

Wednesday, February 11, 2009

Vicky Cristina Barcelona : Modern Bohemian Lifestyle


Vicky (Rebecca Hall) dan Cristina (Scarlett Johansson) adalah dua orang sahabat karib yang menghabiskan summertime mereka di Barcelona, kota indah di Spanyol yang penuh dengan karya- karya seniman jaman renaissance. Saat sedang menikmati makan malam berdua, tiba-tiba seorang pria bernama Juan Antonio (Javier Bardem) menghampiri mereka dan mengajak mereka menghabiskan weekend di Oviedo. Vicky yang sudah bertunangan, terang-terangan menolak ajakan dari orang yang tidak ia kenal itu. Tapi Cristina yang berjiwa bebas dan tak punya pikiran yang panjang malah tertarik dengan Juan Antonio yang ternyata merupakan seorang pelukis.

Vicky yang khawatir akan keselamatan Cristina terpaksa ikut ke Oviedo. Di sana mereka bertiga banyak melakukan sight-seeing hingga malam tiba. Juan Antonio secara terang terangan bertanya ”Which one of you want to go to bed with me?” (this gentlemen is really brave). Vicky tak tertarik dan sesuai dugaan kalian, Christina lah yang “menemani” Juan Antonio. Tapi sayang sesampainya di kamar, Cristina mahal mengalami keracunan makanan.

Keesokannya, Vicky diajak jalan oleh Juan Antonio. And one thing lead to another...they make love....of course Cristina Didn’t know about it coz she’s still in bed….sick….. Vicky dan Juan Antonio sepakat untuk melupakan moment indah itu and moving on with their life. Juan Antonio semakin dekat dengan Cristina, bahkan ia mengajaknya tinggal bersama. Sementara Vicky kedatangan Doug, her prince charming yang menyusulnya ke Barca.

The movie is getting excited when Maria Elena (Penelope Cruz) appears
. Maria Elena adalah istri Juan Antonio yang sepertinya belum diceraikannya. Mereka berpisah karena Maria Elena mempunyai sifat cemburu yang berlebihan. Ia pernah coba membunuh Juan Antonio hanya karena Juan Antonio kedapatan bermain mata dengan wanita lain. Sayang Maria Elena kembali ke kehidupan Juan Antonio di saat yang tidak tepat. Ia sedang menikmati percintaan barunya dengan Cristina. Namun rasa care Juan Antonio pada Maria Elena tak pernah hilang sehingga ia mengijinkan Maria Elena tinggal di rumahnya untuk sementara. Maria Elena dan Cristina awalnya tak saling menyukai tapi lama kelamaan mereka semakin akrab dan Maria Elena lah yang membantu Cristina menemukan bakat fotografinya. Kecocokan mereka terang saja menguntungkan Juan Antonio (the lucky bastard......)...But things didn’t go as he wants because Cristina has a little doubt in her mind about them living together and sharing men.

Woody Allen kembali dengan film terbaiknya setelah Matchpoint. Dengan bantuan keindahan kota Barcelona dan cerita yang njelimet namun menarik serta acting yang sangat bagus dari Penelope Cruz, ia berhasil menciptakan keromantisan yang tak semu. Keintiman dalam film ini benar-benar dipertunjukkan olehnya secara step by step. Tidak secara instant (biasanya film Hollywood itu baru pandang mata dikit uda making love….hmm…..something strange bout that if I may say).

Cerita yang menarik tak akan cukup menarik perhatian penonton jika pemainnya tak menarik. Ada 4 tokoh utama yang berseliweran sepanjang film ini. Like I said before, Maria Elena is the most interesting character of all dan Penelope Cruz (yang aktingnya semakin baik sejak tampil buruk di Gothika) benar-benar mendalami karakter ini. Kegilaannnya dan keanggunannya seakan menjadi satu. Tak heran ia mendapat banyak penghargaan atas perannya ini.

 Berikutnya Scarlett Johansson yang sayang sekali aktingnya tidak berkembang di film ini. Ia tampak kikuk menghadapi lawan main yang memang berada satu tingkat di atasnya.Her sexy body do not amuse me besides she’s sexier in Matchpoint

 Javier Bardem sebagai Juan Antonio masih menyisakan keseramannya yang didapatnya saat menjadi pembunuh berantai di film yang mengganjarnya Piala Oscar, No Country for Old Man. Ia sudah bermain semaksimal mungkin dengan karisma yang mampu melelehkan hati 3 wanita sekaligus. Tapi tetap saja, kehidungbelangannya belum begitu muncul (mungkin Antonio Banderas lebih cocok although it will be a stereotype character for him).Kehidupan bohemiannya patut diacungi jempol karena itulah yang membuatnya menjadi seorang berkarisma di mata perempuan.

Did anyone of you know Rebecca Hall? Pemeran Vicky ini bertampang mirip Shannon Elizabeth (bomb sex in American Pie series) but she’s sure can act better than Shannon. Pendatang baru ini malah dijadikan tokoh sentral oleh Woody Allen. Namun dengan cerdik Woody seakan menyembunyikan peran Vicky dengan cara lebih memperdalam hubungan threesome antara Juan Antonio, Cristina, dan Maria Elena. Tapi tokoh Vicky inilah yang menceminkan diri kita sebagai manusia yang punya banyak keraguan akan kesalahan pilihan yang dibuat dalam hidup.

Sayang sekali Woody Allen kering dalam menampilkan sex scene padahal Threesome scene paling gue tunggu (wkwkwkkwk).....kapan lagi bisa ngeliat Scarlett and Penelope Making out….hahaha…..but hold your fantasies there….There’s no hot scenes in this movie…..just kisses…huh….Tapi jangan ragu untuk nonton film ini karena ini adalaha salah satu film drama romantis terbaik yang pernah gue saksikan.

Saturday, February 7, 2009

Underworld : Rise Of The Lycans And Lucian


Jika Underworld Evolution (2006) merupakan film semi prequel dari Underworld (2003) maka film ini benar-benar full prequelnya. Gue pribadi kurang begitu suka dengan ide prequel. Kenapa ? karena prequel itu biasanya mengangkat cerita yang tidak terlalu penting dan untuk franchise Underworld ini rasanya sudah cukup diceritakan prequelnya pada film kedua.

Namun entah karena para scriptwriter kehabisan ide atau apa, dalam film ini mereka malah menceritakan transformasi Lucian (tokoh antagonis di film pertama) yang pada awalnya adalah seorang kepala budak bagi kaum Death Dealers menjadi pemimpin bangsa Lycans. Lucian dipermak sedemikian rupa sehingga memunculkan simpati penonton meski pada film originalnya tampi bengis. Lucian (Michael Sheen) sendiri merupakan inbreed dari kaum Werewolf dengan manusia, seharusnya percampuran keturunan ini tidak dibiarkan hidup, tetapi Viktor (Bill Nighy), pemimpin kaum Death Dealers mengetahui bahwa inbreed seperti Lucian mempunyai kekuatan yang besar dan dapat dijadikan pelindung dari serangan kaum Werewolf keturunan William. Maka Lucian pun dibiarkan hidup, bahkan Viktor memaksa Lucian untuk menggigit para manusia sehingga berubah menjadi Lycans.

Awalnya Lucian mengabdi pada Viktor dengan sepenuh hati, ia pun mengganggap kaum Werewolf keturunan William adalah binatang yang tidak berperikemanusiaan, selain itu ternyata Lucian juga punya hubungan cinta yang terlarang dengan anak Viktor, yaitu Sonja (Rhona Mitra). Tapi lama kelamaan ia tak tahan juga dengan penderitaan kaum Lycans yang hanya dianggap budak. Oleh karena itu dengan bantuan dari Sonja. Lucian berusaha untuk kabur dari siksaan para Death Dealers. Namun Viktor yang tak ingin kehilangan budak andalannya pun tak tinggal diam.

Ya, kira-kira itulah inti cerita dari film ini. My first impression is this movie rocks! Okay, di awal artikel ini gue bilang gue ga suka sama film prequel, but there’s an exception for this movie because the story is well made and match with it’s predecessor. jika pada film-film sebelumnya lebih mengandalkan tembak-tembakan pistol, kali ini sword medieval actionnya lebih mendominasi and it’s turn to be a cool scenes with a lil bit help from the dramatic pouring rain. kemudian acting dari para Cast terutama Michael Sheen yang kali ini di-plot menjadi tokoh utama tampil cukup bagus, apalagi saat ia kehilangan orang yang dicintainya (ooops….spoiler). Bill Nighy, actor watak asal British ini juga mampu membuat para penonton ketakutan dengan tatapannya yang tajam, ia pun mampu tampil merana saat mengetahui bahwa anaknya berhubunngan dengan seorang Lycans. sementara Rhona Mitra yang didapuk menjadi pemeran utama wanita menggantikan Kate Beckinsale tampil cukup elegan, julukan ”Tough Chick” semakin disematkan padanya (Dia adalah pemeran utama di film action keras Doomsday).

Dan yang paling penting tidak ada pergantian sutradara karena Len Wiseman sudah pas sebagai director adegan action yang mantap sehingga kita tidak bosan melihat film yang kebanyakan bersetting di malam hari ini . Ia pun mampu menerjemahkam film ini menjadi pelengkap missing pieces yang cukup baik dari film-film sebelumnya. Jangan lupakan Kostum gothic dari para cast namun tetap menimbulkan kesan mewah dan elegan. So, for me the third movie maybe beat the hell of the second movie but the original still better. Apakah akan ada film keempatnya ? Menurut Len Wiseman, Underworld hanya akan ditrilogikan, tetapi jika film ini sukses maka tidak menutup kemungkinan akan adanya film keempat, but the main question remains the same: Is it a prequel or a sequel?

Red Cliff Part 2 : The Perfect War Movie


Okay, I’m guilty coz I didn’t watch the first part but it didn’t stop me to give a big applause to this biggest mandarin movie ($80 Million). The War is really long and details. It’s just beat all the war scenes in the Hollywood movie. It’s Just Awesome.

Red Cliff 2 meneruskan perjuangan kerajaan Shu dan Wu yang berperang melawan kerajaan Wei. Film dibuka dengan keberhasilan Cao Cao(Zhang Feng Yi), perdana menteri kerajaan Wei yang berlokasi di Utara sungai Yangtze dalam menyebarkan penyakit tifus ke pasukan kerajaan Shu yang dipimpin pangeran Zhou Yu (Tony Leung). Mengetahui bahwa kondisi sudah sangat sulit untuk memenangkan peperangan, Liu Bei (You Yong), pemimpin kerajaan Wu memutuskan untuk mundur dari garis pertempuran bersama pasukannya, termasuk Lu Bu, Zhang Fei, dan Guan Yu yang sebenarnya tetap ingin bertempur bersama untuk mengalahkan Cao Cao yang congkak.

Namun Zhuge Liang (Takeshi Kaneshiro) dari kerajaan Wu memutuskan untuk tetap tinggal dan berusaha menemukan strategi yang ampuh untuk menandingi ratusan ribu pasukan Cao Cao. Mendengar mundurnya Liu Bei dan pasukannya, Cao Cao semakin jumawa dan memutuskan untuk menyerang lawan di Red Cliff dengan menggunakan artileri berunsur api.

Tetapi Cao Cao tidak tahu kalau Sun Shang Qiang (Vicky Zhao),adik dari Sun Quan, pemimpin kerajaan Shu menyusup ke dalam pasukannya.Saat ia berhasil kembali dengan selamat membawa peta kekuatan pasukan Cao Cao, maka dimulailah rencana untuk menyerang Cao Cao. Zhou Yu dan Zhuge Liang sadar kalau mereka tidak punya anak panah yang cukup untuk berperang disamping kalah jumlah pasukan. Maka dengan brilliant mereka menyusun strategi yang benar-benar membuat pasukan Cao Cao kalang kabut sebelum peperangan aslinya dimulai. Apalagi ternyata pasukan Cao Cao juga semakin banyak yang terkena penyakit tifus tetapi Cao Cao dengan karismanya mampu membangkitkan semangat mereka yang sudah hampir mati hingga mampu bertempur sampai titik darah penghabisan.

Saat Zhou Yu dan pasukannya sudah siap dalam menghadapi Cao Cao dan pasukannya tiba tiba istri Zhou Yu, Xiao Xiao (Lin Chi Ling) memutuskan untuk menyeberang ke kemah Cao Cao dan memohon kepada Cao Cao untuk tidak menyerang Shu. Cao Cao yang dari dulu sudah tertarik dengan Xiao Xiao tiba tiba menjadi ragu dan hal ini dimanfaatkan oleh Xiao Xiao dengan memberikan ramuan di minuman Cao Cao yang membuatnya pusing. Zhou Yu yang gundah gulana akan keberadaan istrinya pun mulai tidak sabar untuk menyerang Cao Cao. Maka dimulailah peperangan yang panjang dan melelahkan di Red Cliff . Dan sesuai dengan sejarah siapa yang akan menyangka kalau ratusan ribu pasukan Cao Cao kalah oleh seorang Ahli Strategi yang mampu mengontrol alam, Zhuge Liang.

John Woo yang untuk pertama kalinya kembali menggarap film mandarin setelah lama berpetualang di Hollywood (Ingat Mission Impossible 2 dan Face Off yang merupakan masterpiecenya di dunia barat). Setelah lama menghilang (terakhir ia menggarap drama “Hulk” yang dihujat oleh banyak orang), he’s back with a vengeance. This is how a war movie should be made, Hollywood. Psychology War, Mind Games, and Pure Action are all over this movie.

Film epik colossal yang berdurasi sangat panjang secara keseluruhan ini benar-benar mampu menyihir para penonton untuk tetap duduk di bangkunya sepanjang film. Adegan peperangan dibuat sebegitu apiknya dan jalannya perang pun tak banyak dipotong….Benar-benar panjang dan memuaskan bagi para penonton. Strategi yang dipakai dalam perang pun sangat cerdik sehingga mengundang decak kagum. Setiap scene yang ada sangat berarti dan tak boleh dilewatkan satu scene pun.

John Woo benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya dalam film ini. Tak hanya mampu mengarahkan adegan action saja. Ia juga tak gagap mengarahkan para aktornya. Ia mampu menampilkan Cao Cao sebagai tokoh antagonis yang tetap punya sisi humanis (saat ia meng-encourage pasukannya yang sakit tifus untuk tetap berperang) dan jangan dilupakan chemistry antara Tony Leung dan Takeshi Kaneshiro yang pas sekali. Sementara pemain lain yang kebanyakan asal Cina Daratan pun mampu menokohkan karakternya masing-masing dengan baik. Sebagai pemanis muncul Lin Chi Ling yang anggun serta Vicky Zhao yang jenaka. Meski begituFilm ini lebih memfokuskan kepada tiga tokoh saja yaitu Zhou Yu, Zhuge Liang dan Cao Cao, padahal tokoh Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei lah yang lebih dikenal dalam sejarah Three Kingdoms. But whatever, Do Not Miss This Movie Folks…..

Tuesday, January 13, 2009

Bedtime Stories : Bugsy Simply Stole The Show


Adam Sandler adalah komedian yang dicintai oleh para moviegoers di Amerika Serikat, di sana ia bisa disetarakan dengan Ben Stiller. gaya berkomedi mereka sama sama slapstick, tetapi Komedi yang dihadirkan Adam lebih ditujukan untuk orang dewasa. Tapi kali ini, Adam "melunakkan" sense of humournya demi menjaring penonton muda usia.

Cerita fantasi yang cukup asik untuk dinikmati bersama keluarga ini dimulai ketika Skeeter Bronson (Adam Sandler), seorang repairman hotel yang kehidupannya berubah semenjak dititipkan kedua keponakannya karena tiba - tiba  bedtime story  yang dikarang oleh Skeeter untuk keponakan-keponakannya saat sebelum tidur, menjadi kenyataan keesokan harinya.

First, I've gotta say that this movie is not a heavy movie. Ga perlu deh kita pusing-pusing pikirin twist....film ini hampir ga ada twistnya.....jalannya linear ajah.....Formula yang dipakai juga sama..kira kira film ini dapat dibagi jadi 3 bagian. Pertama pengenalan karakter dan keajaiban yang diterimanya , pemunculan konflik yang menyeret dan menyadarkan sang tokoh utama, dan adegan penyelesaian yang mudah tertebak.

Adam Sandler berjuang sendirian di film ini dengan sedikit bantuan dari Rob Schneider(yang tampaknya selalu hadir dalam tiap film Sandler). Jika bukan Adam yang menggawangi film ini, film ini akan sulit buat sukses karena Adam mampu menampilkan karakter rendah hati yang akhirnya menimbulkan simpati penonton. Russell Brand tampil cukup lucu sebagai teman dekat dari Adam Sandler dengan tingkah serampangannya sementara Teresa Palmer tampil seksi sebagai anak dari pemilik hotel (which reminds me of Paris Hilton). Para cast lainnya seperti Guy Pearce, Keri Russell, serta Courtney Cox tampil standar.

Tapi yang "truly stole the scene" adalah BUGSY....sejenis marmut berbola mata besar yang sangat imut...Ini juga yang menjadi kelemahan film ini karena setiap film terasa kering, adegan selalu beralih ke tingkah polah Bugsy yang untungnya lucu. So, I suggest you to just sit back, enjoy and don't think about all the nonsense in this movie.

Click to view my Personality Profile page

polls