Friday, March 27, 2009

DRAGON BALL EVOLUTION : SUCCESFULLY RUIN MY CHILDHOOD MOMENTS


Semua orang di Indonesia yang seumuran dengan gue pasti pernah membaca komik Dragon Ball Z pada waktu kecil (gue aja punya komiknya lengkap...hehehe). Komik karangan Akira Toriyama ini entah kenapa punya suatu hal yang membuat semua orang ingin terus mengetahui kelanjutan kisah SonGoku dan kawan-kawannya mencari 7 bola naga.

Sedari awal film ini sudah dikisahkan secara melenceng dan tidak sesuai dengan komiknya, SonGoku (Justin Chatwin dalam penampilan yang sangat cool) yang beranjak remaja merupakan remaja SMA yang kuper (loh,emanknya SonGoku pernah sekolah??) dan menyimpan perasaan kepada ChiChi (Jamie Chung). Namun di balik kekuperannya itu dia punya kekuatan super hasil ajaran kakeknya, SonGohan (Randall Duk Kim)

Di sisi lain diceritakan juga kemunculan Iblis jahat,Piccolo (James Masters) yang sedang mencari 7 buah Dragon Ball yang niscaya mampu mengabulkan satu permintaan pengumpulnya (gue sendiri masih bingung apa yang akan diminta oleh Piccolo, entah kekekalan atau kekuasaan). Dengan bantuan anak buahnya, Mai (Eriko Tamura), Piccolo berhasil melacak keberadaan Dragon Ball ke 4 yang dimiliki oleh SonGohan.

Tanpa banyak perlawanan,Gohan mati di tangan Piccolo.Sebelum mati,Gohan berpesan kepada Goku untuk mencari Master Roshi (Chow Yun Fat). Dalam perjalanan mencari Master Roshi, Goku bertemu Bulma (Emmy Rossum) dan Yamcha (Joon Park) yang turut membantunya membalaskan dendam kakeknya serta mencari bola naga juga.Dalam perjalanan itulah Goku menemukan jati dirinya serta cintanya

Plot yang sangat membosankan ini bisa dikembangkan menjadi sangat menarik oleh Akira Toriyama di komiknya, tapi sayang film ini tak dapat melakukan hal yang sama. Dangkalnya plot film ini ditambah dengan kurang mulusnya adaptasi dari komik ke layar lebar (sangat sulit menikmati 13 Komik dirapatkan menjadi film yang tak sampai 2 jam) membuat film ini terlihat membosankan meski special effect dalam film ini lumayan bagus.

James Wong yang dahulu berhasil mencekam penonton di Final Destination dan menghibur pecinta Jet Li dalam The One tak berhasil menciptakan suasana komikal dalam film ini,alih alih dia malah menambahkan suasana futuristik yang menurut gue tidak perlu. Kemudian dalam hal perpindahan adegan juga banyak sekali adegan yang dipaksa atau dirapatkan.

Jadi satu adegan belum selesai sudah muncul adegan lainnya,Sang Sutradara terkesan buru buru ingin menyelesaikan film ini,sebagai contoh, adegan Tenka Ichi Budokai yang menjadi primadona di komik hanya ditampilkan sekilas di film ini(huh......). 

Dari koreografi actionnya sama sekali tidak ada yang menonjol, yang paling lumayan hanya adegan pembuka antara Goku dan Gohan yang cukup mengundang decak kagum penonton,selebihnya benar-benar standard,bahkan adegan klimaks film ini benar benar basi, diselesaikan secepat mungkin, musuh yang diceritakan sangat kuat berhasil dikalahkan Goku yang masih remaja dengan sekali kamehame(cuihhhhhh)

Dan kelemahan yang paling menonjol dalam film ini adalah tak adanya pendalaman karakter, setiap tokoh diperkenalkan secara elegan (kemunculan ChiChi yang seksi atau Kelucuan Master Roshi) namun setelah itu tokoh tersebut tak dikembangkan dan malah muncul tokoh-tokoh lain yang tak dikembangkan juga karakternya.

Okelah, Justin Chatwin tampil sangat cool tapi dia benar-benar tidak mirip SonGoku dalam komik yang diceritakan slengean waktu remajanya, Emmy Rossum dan Jamie Chung menjadi penyegar dalam filmi ini,kostum yang dipakai mereka benar benar menjual 'aset' mereka (wkwkwkwk).Yang patut diberi pujian adalah Chow Yun Fat sebagai Master Roshi yang kocak, walaupun ia belum mampu melepaskan kesan serius yang biasa dimainkannya,tetapi dia sudah mencoba untuk menjadi kocak. Yang kurang adalah kemesumannya yang tak banyak muncul (maklumlah film ini ratingnya cuma PG). Aktor dan aktris lainnya terkesan hanya sebagai tempelan saja, tak ada yang mengena di hati.

Secara overall, Dragon Ball Evolution sebaiknya tidak dibuat sekuelnya lagi karena akan merusak masa kecil orang banyak, lagipula rating film ini yang PG (Parental Guidance) dirasa kurang pas, jarang sekali film action dengan rating PG mampu merajai Box Office kecuali film kartun ya.

Friday, March 13, 2009

QUARANTINE : WHEN DOG BITES WENT WORSE


Quarantine  adalah sebuah film remake dari film spanyol yang cukup sukses berjudul Rec yang dibuat dengan cara indie tapi ditayangkan secara luas.  Memang gaungnya kurang terdengar baik dalam dunia atas (blockbuster) maupun dunia bawah (indie), ya bisa dibilang film medioker lah kalau ga mau disebut B Movie tetapi setidaknya film ini memberikan ketegangan yang cukup intense bagi diri gue pribadi.

Angela (Jennifer Carpenter) adalah seorang reporter acara Night Shift yang sedang meliput kegiatan para firefighters (khususnya Jake (Jay Hernandez) & Fletcher(Johnathon Schaech) ) bersama sang kameramen, Scott (Steve Harris). Mereka mendapat panggilan emergency dari suatu apartemen di pinggiran kota. Saat mereka berempat sampai, sudah ada 2 polisi di TKP. Ternyata ada seorang wanita tua yang berteriak-teriak seperti orang gila di kamarnya. Saat ingin diamankan tiba-tiba wanita tua itu menggigit salah satu polisi dan seketika apartemen dikunci dari luar oleh pihak berwajib. 

Rupanya apartemen tersebut diisolasi karena diduga menjadi sumber munculnya penyakit rabies aneh yang membuat makhluk yang terkena virus ini akan menjadi beringas dalam sekejap. Keadaan semakin gawat saat Fletcher juga tergigit. Setelah semua penghuni apartemen berkumpul, mereka segera mencari jalan keluar. Namun mereka harus cepat karena penghuni apartemen semakin banyak yang terinfeksi, berhasilkah mereka???

Sekilas, plot dari film ini benar-benar dangkal, namun sang sutradara John Erick Dowdle dengan cerdik mengakali plot yang lemah dengan menshoot seluruh adegan film dengan handheld camera yang tidak steady,pernah nonton Cloverfield kan? nah point of view nya persis banget sama filmnya JJ Abrams itu. Tapi film ini terkesan lebih mencekam karena sang sutradara mampu membangun atmosfer yang ganjil di dalam apartemen tersebut.

Jennifer Carpenter yang sebelumnya bermain "kesetanan" dalam The Exorcism of Emily Rose kembali bermain bagus dalam film ini, transformasi karakter yang dilakukannya memang kurang sempurna (dari seorang reporter yang mengejar berita sepenuh hati sampai menjadi seorang paranoid yang takut gelap), namun usahanya patut diberi pujian mengingat dialah jiwa dalam film ini. Cast lainnya kurang menonjol kecuali Jay Hernandez yang tampil cukup heroik.

Adegan demi adegan berjalan cukup mulus dan menegangkan, sang sutradara pun dengan brilliant mampu memanfaatkan kamera handheld dengan baik (ada adegan infrared serta penggunaan kamera itu sendiri sebagai senjata)

Meski di dalam film dijelaskan mengapa penyakit ini muncul namun kesan mengisolasi dan mengevakuasi semua orang di dalam kota terkesan sangat terburu-buru karena beberapa jam sebelumnya belum ada berita tentang kejadian ini (Angela masih meliput kegiatan para pemadam di dorm nya). Pokoknya banyak sekali hal yang janggal dalam film ini. Dan yang paling janggal adalah endingnya, if u don't want to know the ending, just stop reading now!

Endingnya sangat sucks, karena sepanjang film kita seakan diikutkan dalam usaha para orang yang terkarantina secara paksa untuk mencari jalan keluar, tetapi hasilnya tetap nihil. Semua mati satu persatu dengan sadis. Please deh, that's not a good formula for a thriller movie, it's frustrating

Monday, March 9, 2009

PUSH : Action Movie With A Rare Touch Of Drama


Sebelum nonton film ini, gue pikir film ini akan mirip-mirip dengan Jumper nya Doug Liman, secara pemeran utamanya sama sama keren terus sang pemeran utama juga punya kekuatan super yang keren. Dan gue kira film ini disutradarai oleh Doug Liman juga. Ternyata gue salah. Film ini di-direct oleh Paul McGuigan. Who is him? Jika semua orang mengernyitkan dahinya, Gue enggak. Gue tau Sutradara asal Britania Raya ini merupakan sutradara yang sangat nyentrik, coba deh saksikan Lucky Number Slevin (Film action yang nyentrik dan tidak action) atau Wicker Park yang kedua-duanya dibintangi oleh Josh Hartnett yang juga diarahkan olehnya. You will amazed by his ability to bring a comfortness in the movie. Oke, in my opinion. McGuigan sukses membuat sebuah drama yang menarik tapi ia belum begitu teruji dalam membuat film full action yang komersil (Lucky Number Slevin agak membosankan dan tidak bisa dibilang film full action). Oleh karena itu you all can give him an ecxuse if this movie fails, his first timer for Christ's sake.

Inti cerita film ini cukup ringan namun berhasil dibikin njelimet oleh McGuigan (kesuksesan atau kegagalan nih?). Diceritakan eksperimen yang dilakukan oleh Nazi menimbulkan banyak manusia memiliki kekuatan super yang berbeda-beda tersebar di seluruh pelosok dunia dan Nick (Chris Evans) adalah seorang Mover (mampu menggerakkan barang barang tanpa disentuh) generasi kedua yang sudah lama hidup dalam persembunyian di Hongkong. Tiba-tiba ia didatangi oleh Cassie (Dakota Fanning)  yang mempunyai kekuatan untuk melihat masa depan (Watcher). Cassie meramal bahwa mereka berdua akan mati jika tak berhasil menemukan seorang gadis (Camilla Belle) yang juga dicari-cari agen dari DIVISSION (semacam perkumpulan untuk orang-orang "istimewa" itu) pimpinan Henry Carver (Djimon Hounsou).

Tampaknya McGuigan masih tetap menampilkan style uniknya dalam film ini. Tercatat ada 3 elemen dalam film ini yang hampir sama dengan elemen di film McGuigan sebelumnya (Wicker Park). Pertama, adanya suara-suara para tokoh yang kadang terngiang-ngiang / bergema dalam pikiran sang tokoh (agak mengganggu karena adegan seperti ini merupakan cliche element dalam B Movie). Kedua, pengambilan gambar yang terkadang menggunakan kamera handheld yang banyak bintik-bintiknya (sangat tidak cocok untuk film action seperti ini). Dan yang terakhir adalah musiknya yang terkadang eksplosive dan terkadang comforting (benar-benar sesuai dengan tone dari film ini).

Untuk casting dalam film ini cukup menarik untuk diulas juga. Chris Evans sebagai tokoh utama tampil tak menonjol (biasa-biasa saja, tak ada peningkatan), ya bisa dibilang menjadi titik lemah dalam film ini (sama halnya dengan akting kaku namun kerennya Hayden Christensen di Jumper). Camilla Belle yang sangat cantik tampil anggun dan kalem namun mematikan dan sangat cocok dengan kemampuannya sebagai Pusher (by the way pusher itu bukan kemampuan untuk mendorong secara fisikal tapi merupakan kemampuan untuk mendorong seseorang untuk melakukan hal yang kita inginkan dengan cara memanipulasi pikiran korban). Camilla sangat berpeluang besar menjadi the next Kate Winslet asal tidak banyak bermain di film besar yang flop (cukup 1001 BC saja). Sementara Dakota Fanning, aktris cilik penuh bakat yang sudah jadi ABG tetap berakting natural dan dewasa (seperti biasa, tak sesuai dengan umurnya). Yang paling menyedihkan adalah akting dari Djimon Hounsou yang benar-benar menyedihkan dan tak berkembang. kemunculan Cliff Curtis sebagai Shifter yang penuh style, Neil Jackson (villain dari Quantum Of Solace) serta Lu Lu (yang sangat mirip model papan atas kita, Dominique) cukup menyegarkan. sementara penampilan dua bintang seri televisi Amrik yaitu Ming Na (Punggawa E.R) yang sudah lama tak main dan Joel Gretsch(The 4400) film tampil standar.

Kelebihan film adalah keberanian McGuigan untuk keluar dari stereotype film action (setting utama selalu di Amerika atau Eropa) dan men-setting keseluruhan film di Hongkong. Sebenarnya langkah ini bisa menjadi bumerang karena film yang full bersetting di luar Amerika itu biasanya adalah film seni macam Lost in Translation atau Code 46 dan film action kelas B yng dibintangi oleh JCVD atau Steven Seagal. But it looks like McGuigan really impress me with his choice of setting. Dan jangan dilupakan spesial efek yang cukup oke.

Dan McGuigan jugalah yang menjadi titik lemah utama dalam film, terlalu banyak adegan silence yang menurut gue tidak perlu-perlu amat (this is a action movie not a contemporer drama or a mistery drama,dude). Selain itu McGuigan juga membuat kesalahan fatal dengan mengakhiri film ini dengan cara yang dilakukan oleh sutradara film kelas B yaitu ending yang cukup menggantung, maunya sih dibuat film sekuelnya. Tetapi ingat, film-film action yang sukses bersekuel-sekuel sama sekali tak pernah menggantung endingnya di film originalnya (remember the ending of The Matrix, Lethal Weapon, or The Bourne Identity?).

So, Is McGuigan a WATCHER too?? can he sees the sequel coming in a few years?? I Don't Think So Mate

Click to view my Personality Profile page

polls