
Sebelum nonton film ini, gue pikir film ini akan mirip-mirip dengan Jumper nya Doug Liman, secara pemeran utamanya sama sama keren terus sang pemeran utama juga punya kekuatan super yang keren. Dan gue kira film ini disutradarai oleh Doug Liman juga. Ternyata gue salah. Film ini di-direct oleh Paul McGuigan. Who is him? Jika semua orang mengernyitkan dahinya, Gue enggak. Gue tau Sutradara asal Britania Raya ini merupakan sutradara yang sangat nyentrik, coba deh saksikan Lucky Number Slevin (Film action yang nyentrik dan tidak action) atau Wicker Park yang kedua-duanya dibintangi oleh Josh Hartnett yang juga diarahkan olehnya. You will amazed by his ability to bring a comfortness in the movie. Oke, in my opinion. McGuigan sukses membuat sebuah drama yang menarik tapi ia belum begitu teruji dalam membuat film full action yang komersil (Lucky Number Slevin agak membosankan dan tidak bisa dibilang film full action). Oleh karena itu you all can give him an ecxuse if this movie fails, his first timer for Christ's sake.
Inti cerita film ini cukup ringan namun berhasil dibikin njelimet oleh McGuigan (kesuksesan atau kegagalan nih?). Diceritakan eksperimen yang dilakukan oleh Nazi menimbulkan banyak manusia memiliki kekuatan super yang berbeda-beda tersebar di seluruh pelosok dunia dan Nick (Chris Evans) adalah seorang Mover (mampu menggerakkan barang barang tanpa disentuh) generasi kedua yang sudah lama hidup dalam persembunyian di Hongkong. Tiba-tiba ia didatangi oleh Cassie (Dakota Fanning) yang mempunyai kekuatan untuk melihat masa depan (Watcher). Cassie meramal bahwa mereka berdua akan mati jika tak berhasil menemukan seorang gadis (Camilla Belle) yang juga dicari-cari agen dari DIVISSION (semacam perkumpulan untuk orang-orang "istimewa" itu) pimpinan Henry Carver (Djimon Hounsou).
Tampaknya McGuigan masih tetap menampilkan style uniknya dalam film ini. Tercatat ada 3 elemen dalam film ini yang hampir sama dengan elemen di film McGuigan sebelumnya (Wicker Park). Pertama, adanya suara-suara para tokoh yang kadang terngiang-ngiang / bergema dalam pikiran sang tokoh (agak mengganggu karena adegan seperti ini merupakan cliche element dalam B Movie). Kedua, pengambilan gambar yang terkadang menggunakan kamera handheld yang banyak bintik-bintiknya (sangat tidak cocok untuk film action seperti ini). Dan yang terakhir adalah musiknya yang terkadang eksplosive dan terkadang comforting (benar-benar sesuai dengan tone dari film ini).
Untuk casting dalam film ini cukup menarik untuk diulas juga. Chris Evans sebagai tokoh utama tampil tak menonjol (biasa-biasa saja, tak ada peningkatan), ya bisa dibilang menjadi titik lemah dalam film ini (sama halnya dengan akting kaku namun kerennya Hayden Christensen di Jumper). Camilla Belle yang sangat cantik tampil anggun dan kalem namun mematikan dan sangat cocok dengan kemampuannya sebagai Pusher (by the way pusher itu bukan kemampuan untuk mendorong secara fisikal tapi merupakan kemampuan untuk mendorong seseorang untuk melakukan hal yang kita inginkan dengan cara memanipulasi pikiran korban). Camilla sangat berpeluang besar menjadi the next Kate Winslet asal tidak banyak bermain di film besar yang flop (cukup 1001 BC saja). Sementara Dakota Fanning, aktris cilik penuh bakat yang sudah jadi ABG tetap berakting natural dan dewasa (seperti biasa, tak sesuai dengan umurnya). Yang paling menyedihkan adalah akting dari Djimon Hounsou yang benar-benar menyedihkan dan tak berkembang. kemunculan Cliff Curtis sebagai Shifter yang penuh style, Neil Jackson (villain dari Quantum Of Solace) serta Lu Lu (yang sangat mirip model papan atas kita, Dominique) cukup menyegarkan. sementara penampilan dua bintang seri televisi Amrik yaitu Ming Na (Punggawa E.R) yang sudah lama tak main dan Joel Gretsch(The 4400) film tampil standar.
Kelebihan film adalah keberanian McGuigan untuk keluar dari stereotype film action (setting utama selalu di Amerika atau Eropa) dan men-setting keseluruhan film di Hongkong. Sebenarnya langkah ini bisa menjadi bumerang karena film yang full bersetting di luar Amerika itu biasanya adalah film seni macam Lost in Translation atau Code 46 dan film action kelas B yng dibintangi oleh JCVD atau Steven Seagal. But it looks like McGuigan really impress me with his choice of setting. Dan jangan dilupakan spesial efek yang cukup oke.
Dan McGuigan jugalah yang menjadi titik lemah utama dalam film, terlalu banyak adegan silence yang menurut gue tidak perlu-perlu amat (this is a action movie not a contemporer drama or a mistery drama,dude). Selain itu McGuigan juga membuat kesalahan fatal dengan mengakhiri film ini dengan cara yang dilakukan oleh sutradara film kelas B yaitu ending yang cukup menggantung, maunya sih dibuat film sekuelnya. Tetapi ingat, film-film action yang sukses bersekuel-sekuel sama sekali tak pernah menggantung endingnya di film originalnya (remember the ending of The Matrix, Lethal Weapon, or The Bourne Identity?).
So, Is McGuigan a WATCHER too?? can he sees the sequel coming in a few years?? I Don't Think So Mate

No comments:
Post a Comment