
Quarantine adalah sebuah film remake dari film spanyol yang cukup sukses berjudul Rec yang dibuat dengan cara indie tapi ditayangkan secara luas. Memang gaungnya kurang terdengar baik dalam dunia atas (blockbuster) maupun dunia bawah (indie), ya bisa dibilang film medioker lah kalau ga mau disebut B Movie tetapi setidaknya film ini memberikan ketegangan yang cukup intense bagi diri gue pribadi.
Angela (Jennifer Carpenter) adalah seorang reporter acara Night Shift yang sedang meliput kegiatan para firefighters (khususnya Jake (Jay Hernandez) & Fletcher(Johnathon Schaech) ) bersama sang kameramen, Scott (Steve Harris). Mereka mendapat panggilan emergency dari suatu apartemen di pinggiran kota. Saat mereka berempat sampai, sudah ada 2 polisi di TKP. Ternyata ada seorang wanita tua yang berteriak-teriak seperti orang gila di kamarnya. Saat ingin diamankan tiba-tiba wanita tua itu menggigit salah satu polisi dan seketika apartemen dikunci dari luar oleh pihak berwajib.
Rupanya apartemen tersebut diisolasi karena diduga menjadi sumber munculnya penyakit rabies aneh yang membuat makhluk yang terkena virus ini akan menjadi beringas dalam sekejap. Keadaan semakin gawat saat Fletcher juga tergigit. Setelah semua penghuni apartemen berkumpul, mereka segera mencari jalan keluar. Namun mereka harus cepat karena penghuni apartemen semakin banyak yang terinfeksi, berhasilkah mereka???
Sekilas, plot dari film ini benar-benar dangkal, namun sang sutradara John Erick Dowdle dengan cerdik mengakali plot yang lemah dengan menshoot seluruh adegan film dengan handheld camera yang tidak steady,pernah nonton Cloverfield kan? nah point of view nya persis banget sama filmnya JJ Abrams itu. Tapi film ini terkesan lebih mencekam karena sang sutradara mampu membangun atmosfer yang ganjil di dalam apartemen tersebut.
Jennifer Carpenter yang sebelumnya bermain "kesetanan" dalam The Exorcism of Emily Rose kembali bermain bagus dalam film ini, transformasi karakter yang dilakukannya memang kurang sempurna (dari seorang reporter yang mengejar berita sepenuh hati sampai menjadi seorang paranoid yang takut gelap), namun usahanya patut diberi pujian mengingat dialah jiwa dalam film ini. Cast lainnya kurang menonjol kecuali Jay Hernandez yang tampil cukup heroik.
Adegan demi adegan berjalan cukup mulus dan menegangkan, sang sutradara pun dengan brilliant mampu memanfaatkan kamera handheld dengan baik (ada adegan infrared serta penggunaan kamera itu sendiri sebagai senjata)
Meski di dalam film dijelaskan mengapa penyakit ini muncul namun kesan mengisolasi dan mengevakuasi semua orang di dalam kota terkesan sangat terburu-buru karena beberapa jam sebelumnya belum ada berita tentang kejadian ini (Angela masih meliput kegiatan para pemadam di dorm nya). Pokoknya banyak sekali hal yang janggal dalam film ini. Dan yang paling janggal adalah endingnya, if u don't want to know the ending, just stop reading now!
Endingnya sangat sucks, karena sepanjang film kita seakan diikutkan dalam usaha para orang yang terkarantina secara paksa untuk mencari jalan keluar, tetapi hasilnya tetap nihil. Semua mati satu persatu dengan sadis. Please deh, that's not a good formula for a thriller movie, it's frustrating

No comments:
Post a Comment