Thursday, February 12, 2009

Doomsday : Rhona Mitra Doomed It All


Sebuah virus ganas menyerang Inggris pada tahun 2008. Virus yang tak diketahui dari mana asalnya itu bisa menyebabkan orang yang terinfeksi olehnya berubah menjadi mayat hidup. Pemerintah Inggris memutuskan untuk mengkarantina wilayah utara (dari Newcastle sampai Glasgow,Scotland) serta meninggalkan orang-orang yang masih berada di wilayah yang dinamakan “Hot Zone” tersebut untuk mencegah menyebarnya virus itu. Mereka membangun tembok yang sangat tinggi dan dilengkapi dengan machine gun yang siap menembak setiap makhluk hidup yang mencoba mendekati perbatasan itu.

Tiga dekade kemudian, tepatnya tahun 2035, Virus ganas yang dinamakan The Reaper itu kembali muncul di London. Dari pengamatan Satelit, diketahui bahwa terdapat tanda-tanda kehidupan di Glasgow. Dalam keputusasaan, pemerintah Inggris memutuskan untuk mencari antivirus yang mungkin saja ada di Glasgow. Dipimpin oleh Eden Sinclair (Rhona Mitra), sekelompok pasukan ditugaskan untuk mencari Charles Kane (Malcolm McDowell) yang dipercayai punya antidote untuk virus The Reaper.

Tidak disangka-sangka, Eden dan kawan-kawannya disambut oleh sekelompok punk-ass hooligans berdandan gothic (sepertinya Neill Marshall mencontek Franchise Mad Max nya Mel Gibson) yang dipimpin oleh Sol (Craig Conway). Serangan dari Hooligans yang juga kanibal ini berhasil membunuh banyak anak buah Eden, hingga tersisa Eden, Sgt.Norton (Adrian Lester), dan Dr.Stirling (Darren Moffitt). Mereka berhasil kabur dari Sol dan anak buahnya dibantu oleh Cally yang ternyata merupakan anak dari Kane. Berhasilkah mereka mendapatkan apa yang mereka mau???

Ide cerita film ini sepintas mirip dengan 28 Days Later (2003), namun kali ini Neil Marshall, sutradara dengan trademark gore scenesnya lebih memperbanyak adegan combat action demi memuaskan mata para pecinta film action. Tidak ada penjelasn detail tentang virus ”The Reaper” karena film ini memang lebih fokus dalam memacu adrenaline penonton daripada menjelaskan secara ilmiah tentang virus "The Reaper".

Pemilihan Rhona Mitra sebagai Eden Sinclair sangat tepat menurut gue coz she’s really kick ass. Tidak terpancar kegentaran di matanya saat menghadapi kaum kanibal ataupun prajurit berjubah besi. This is truly her one woman show. Disini ia terlihat mirip dengan Charlize Theron di film Aeon Flop (eh Aeon Flux…hehehe). Selain dia, Adrian Lester yang lebih dikenal sebagai conman di film seri Hustle juga cukup menarik simpati. Penampilan “gila” Craig Conway sebagai Sol yang tangguh menambah nilai plus untuk film ini.

Memang terdapat banyak adegan non-sense yang mengejutkan dalam film ini seperti Kane yang membangun kerajaan lagi di Scotland. Keromantisan antara Dr.Sterling dan Cally pun terkesan dipakasakan but I still want to give my two thumbs up to Neill Marshall. Why? Coz he can make this B-Movie really entertaining. Especially the longest pumping adrenaline car chase scene I’ve ever seen since The Bourne Supremacy (2004). Watch this movie but forget all about the non-sense. Just enjoy the ride. ^^

Wednesday, February 11, 2009

Vicky Cristina Barcelona : Modern Bohemian Lifestyle


Vicky (Rebecca Hall) dan Cristina (Scarlett Johansson) adalah dua orang sahabat karib yang menghabiskan summertime mereka di Barcelona, kota indah di Spanyol yang penuh dengan karya- karya seniman jaman renaissance. Saat sedang menikmati makan malam berdua, tiba-tiba seorang pria bernama Juan Antonio (Javier Bardem) menghampiri mereka dan mengajak mereka menghabiskan weekend di Oviedo. Vicky yang sudah bertunangan, terang-terangan menolak ajakan dari orang yang tidak ia kenal itu. Tapi Cristina yang berjiwa bebas dan tak punya pikiran yang panjang malah tertarik dengan Juan Antonio yang ternyata merupakan seorang pelukis.

Vicky yang khawatir akan keselamatan Cristina terpaksa ikut ke Oviedo. Di sana mereka bertiga banyak melakukan sight-seeing hingga malam tiba. Juan Antonio secara terang terangan bertanya ”Which one of you want to go to bed with me?” (this gentlemen is really brave). Vicky tak tertarik dan sesuai dugaan kalian, Christina lah yang “menemani” Juan Antonio. Tapi sayang sesampainya di kamar, Cristina mahal mengalami keracunan makanan.

Keesokannya, Vicky diajak jalan oleh Juan Antonio. And one thing lead to another...they make love....of course Cristina Didn’t know about it coz she’s still in bed….sick….. Vicky dan Juan Antonio sepakat untuk melupakan moment indah itu and moving on with their life. Juan Antonio semakin dekat dengan Cristina, bahkan ia mengajaknya tinggal bersama. Sementara Vicky kedatangan Doug, her prince charming yang menyusulnya ke Barca.

The movie is getting excited when Maria Elena (Penelope Cruz) appears
. Maria Elena adalah istri Juan Antonio yang sepertinya belum diceraikannya. Mereka berpisah karena Maria Elena mempunyai sifat cemburu yang berlebihan. Ia pernah coba membunuh Juan Antonio hanya karena Juan Antonio kedapatan bermain mata dengan wanita lain. Sayang Maria Elena kembali ke kehidupan Juan Antonio di saat yang tidak tepat. Ia sedang menikmati percintaan barunya dengan Cristina. Namun rasa care Juan Antonio pada Maria Elena tak pernah hilang sehingga ia mengijinkan Maria Elena tinggal di rumahnya untuk sementara. Maria Elena dan Cristina awalnya tak saling menyukai tapi lama kelamaan mereka semakin akrab dan Maria Elena lah yang membantu Cristina menemukan bakat fotografinya. Kecocokan mereka terang saja menguntungkan Juan Antonio (the lucky bastard......)...But things didn’t go as he wants because Cristina has a little doubt in her mind about them living together and sharing men.

Woody Allen kembali dengan film terbaiknya setelah Matchpoint. Dengan bantuan keindahan kota Barcelona dan cerita yang njelimet namun menarik serta acting yang sangat bagus dari Penelope Cruz, ia berhasil menciptakan keromantisan yang tak semu. Keintiman dalam film ini benar-benar dipertunjukkan olehnya secara step by step. Tidak secara instant (biasanya film Hollywood itu baru pandang mata dikit uda making love….hmm…..something strange bout that if I may say).

Cerita yang menarik tak akan cukup menarik perhatian penonton jika pemainnya tak menarik. Ada 4 tokoh utama yang berseliweran sepanjang film ini. Like I said before, Maria Elena is the most interesting character of all dan Penelope Cruz (yang aktingnya semakin baik sejak tampil buruk di Gothika) benar-benar mendalami karakter ini. Kegilaannnya dan keanggunannya seakan menjadi satu. Tak heran ia mendapat banyak penghargaan atas perannya ini.

 Berikutnya Scarlett Johansson yang sayang sekali aktingnya tidak berkembang di film ini. Ia tampak kikuk menghadapi lawan main yang memang berada satu tingkat di atasnya.Her sexy body do not amuse me besides she’s sexier in Matchpoint

 Javier Bardem sebagai Juan Antonio masih menyisakan keseramannya yang didapatnya saat menjadi pembunuh berantai di film yang mengganjarnya Piala Oscar, No Country for Old Man. Ia sudah bermain semaksimal mungkin dengan karisma yang mampu melelehkan hati 3 wanita sekaligus. Tapi tetap saja, kehidungbelangannya belum begitu muncul (mungkin Antonio Banderas lebih cocok although it will be a stereotype character for him).Kehidupan bohemiannya patut diacungi jempol karena itulah yang membuatnya menjadi seorang berkarisma di mata perempuan.

Did anyone of you know Rebecca Hall? Pemeran Vicky ini bertampang mirip Shannon Elizabeth (bomb sex in American Pie series) but she’s sure can act better than Shannon. Pendatang baru ini malah dijadikan tokoh sentral oleh Woody Allen. Namun dengan cerdik Woody seakan menyembunyikan peran Vicky dengan cara lebih memperdalam hubungan threesome antara Juan Antonio, Cristina, dan Maria Elena. Tapi tokoh Vicky inilah yang menceminkan diri kita sebagai manusia yang punya banyak keraguan akan kesalahan pilihan yang dibuat dalam hidup.

Sayang sekali Woody Allen kering dalam menampilkan sex scene padahal Threesome scene paling gue tunggu (wkwkwkkwk).....kapan lagi bisa ngeliat Scarlett and Penelope Making out….hahaha…..but hold your fantasies there….There’s no hot scenes in this movie…..just kisses…huh….Tapi jangan ragu untuk nonton film ini karena ini adalaha salah satu film drama romantis terbaik yang pernah gue saksikan.

Saturday, February 7, 2009

Underworld : Rise Of The Lycans And Lucian


Jika Underworld Evolution (2006) merupakan film semi prequel dari Underworld (2003) maka film ini benar-benar full prequelnya. Gue pribadi kurang begitu suka dengan ide prequel. Kenapa ? karena prequel itu biasanya mengangkat cerita yang tidak terlalu penting dan untuk franchise Underworld ini rasanya sudah cukup diceritakan prequelnya pada film kedua.

Namun entah karena para scriptwriter kehabisan ide atau apa, dalam film ini mereka malah menceritakan transformasi Lucian (tokoh antagonis di film pertama) yang pada awalnya adalah seorang kepala budak bagi kaum Death Dealers menjadi pemimpin bangsa Lycans. Lucian dipermak sedemikian rupa sehingga memunculkan simpati penonton meski pada film originalnya tampi bengis. Lucian (Michael Sheen) sendiri merupakan inbreed dari kaum Werewolf dengan manusia, seharusnya percampuran keturunan ini tidak dibiarkan hidup, tetapi Viktor (Bill Nighy), pemimpin kaum Death Dealers mengetahui bahwa inbreed seperti Lucian mempunyai kekuatan yang besar dan dapat dijadikan pelindung dari serangan kaum Werewolf keturunan William. Maka Lucian pun dibiarkan hidup, bahkan Viktor memaksa Lucian untuk menggigit para manusia sehingga berubah menjadi Lycans.

Awalnya Lucian mengabdi pada Viktor dengan sepenuh hati, ia pun mengganggap kaum Werewolf keturunan William adalah binatang yang tidak berperikemanusiaan, selain itu ternyata Lucian juga punya hubungan cinta yang terlarang dengan anak Viktor, yaitu Sonja (Rhona Mitra). Tapi lama kelamaan ia tak tahan juga dengan penderitaan kaum Lycans yang hanya dianggap budak. Oleh karena itu dengan bantuan dari Sonja. Lucian berusaha untuk kabur dari siksaan para Death Dealers. Namun Viktor yang tak ingin kehilangan budak andalannya pun tak tinggal diam.

Ya, kira-kira itulah inti cerita dari film ini. My first impression is this movie rocks! Okay, di awal artikel ini gue bilang gue ga suka sama film prequel, but there’s an exception for this movie because the story is well made and match with it’s predecessor. jika pada film-film sebelumnya lebih mengandalkan tembak-tembakan pistol, kali ini sword medieval actionnya lebih mendominasi and it’s turn to be a cool scenes with a lil bit help from the dramatic pouring rain. kemudian acting dari para Cast terutama Michael Sheen yang kali ini di-plot menjadi tokoh utama tampil cukup bagus, apalagi saat ia kehilangan orang yang dicintainya (ooops….spoiler). Bill Nighy, actor watak asal British ini juga mampu membuat para penonton ketakutan dengan tatapannya yang tajam, ia pun mampu tampil merana saat mengetahui bahwa anaknya berhubunngan dengan seorang Lycans. sementara Rhona Mitra yang didapuk menjadi pemeran utama wanita menggantikan Kate Beckinsale tampil cukup elegan, julukan ”Tough Chick” semakin disematkan padanya (Dia adalah pemeran utama di film action keras Doomsday).

Dan yang paling penting tidak ada pergantian sutradara karena Len Wiseman sudah pas sebagai director adegan action yang mantap sehingga kita tidak bosan melihat film yang kebanyakan bersetting di malam hari ini . Ia pun mampu menerjemahkam film ini menjadi pelengkap missing pieces yang cukup baik dari film-film sebelumnya. Jangan lupakan Kostum gothic dari para cast namun tetap menimbulkan kesan mewah dan elegan. So, for me the third movie maybe beat the hell of the second movie but the original still better. Apakah akan ada film keempatnya ? Menurut Len Wiseman, Underworld hanya akan ditrilogikan, tetapi jika film ini sukses maka tidak menutup kemungkinan akan adanya film keempat, but the main question remains the same: Is it a prequel or a sequel?

Red Cliff Part 2 : The Perfect War Movie


Okay, I’m guilty coz I didn’t watch the first part but it didn’t stop me to give a big applause to this biggest mandarin movie ($80 Million). The War is really long and details. It’s just beat all the war scenes in the Hollywood movie. It’s Just Awesome.

Red Cliff 2 meneruskan perjuangan kerajaan Shu dan Wu yang berperang melawan kerajaan Wei. Film dibuka dengan keberhasilan Cao Cao(Zhang Feng Yi), perdana menteri kerajaan Wei yang berlokasi di Utara sungai Yangtze dalam menyebarkan penyakit tifus ke pasukan kerajaan Shu yang dipimpin pangeran Zhou Yu (Tony Leung). Mengetahui bahwa kondisi sudah sangat sulit untuk memenangkan peperangan, Liu Bei (You Yong), pemimpin kerajaan Wu memutuskan untuk mundur dari garis pertempuran bersama pasukannya, termasuk Lu Bu, Zhang Fei, dan Guan Yu yang sebenarnya tetap ingin bertempur bersama untuk mengalahkan Cao Cao yang congkak.

Namun Zhuge Liang (Takeshi Kaneshiro) dari kerajaan Wu memutuskan untuk tetap tinggal dan berusaha menemukan strategi yang ampuh untuk menandingi ratusan ribu pasukan Cao Cao. Mendengar mundurnya Liu Bei dan pasukannya, Cao Cao semakin jumawa dan memutuskan untuk menyerang lawan di Red Cliff dengan menggunakan artileri berunsur api.

Tetapi Cao Cao tidak tahu kalau Sun Shang Qiang (Vicky Zhao),adik dari Sun Quan, pemimpin kerajaan Shu menyusup ke dalam pasukannya.Saat ia berhasil kembali dengan selamat membawa peta kekuatan pasukan Cao Cao, maka dimulailah rencana untuk menyerang Cao Cao. Zhou Yu dan Zhuge Liang sadar kalau mereka tidak punya anak panah yang cukup untuk berperang disamping kalah jumlah pasukan. Maka dengan brilliant mereka menyusun strategi yang benar-benar membuat pasukan Cao Cao kalang kabut sebelum peperangan aslinya dimulai. Apalagi ternyata pasukan Cao Cao juga semakin banyak yang terkena penyakit tifus tetapi Cao Cao dengan karismanya mampu membangkitkan semangat mereka yang sudah hampir mati hingga mampu bertempur sampai titik darah penghabisan.

Saat Zhou Yu dan pasukannya sudah siap dalam menghadapi Cao Cao dan pasukannya tiba tiba istri Zhou Yu, Xiao Xiao (Lin Chi Ling) memutuskan untuk menyeberang ke kemah Cao Cao dan memohon kepada Cao Cao untuk tidak menyerang Shu. Cao Cao yang dari dulu sudah tertarik dengan Xiao Xiao tiba tiba menjadi ragu dan hal ini dimanfaatkan oleh Xiao Xiao dengan memberikan ramuan di minuman Cao Cao yang membuatnya pusing. Zhou Yu yang gundah gulana akan keberadaan istrinya pun mulai tidak sabar untuk menyerang Cao Cao. Maka dimulailah peperangan yang panjang dan melelahkan di Red Cliff . Dan sesuai dengan sejarah siapa yang akan menyangka kalau ratusan ribu pasukan Cao Cao kalah oleh seorang Ahli Strategi yang mampu mengontrol alam, Zhuge Liang.

John Woo yang untuk pertama kalinya kembali menggarap film mandarin setelah lama berpetualang di Hollywood (Ingat Mission Impossible 2 dan Face Off yang merupakan masterpiecenya di dunia barat). Setelah lama menghilang (terakhir ia menggarap drama “Hulk” yang dihujat oleh banyak orang), he’s back with a vengeance. This is how a war movie should be made, Hollywood. Psychology War, Mind Games, and Pure Action are all over this movie.

Film epik colossal yang berdurasi sangat panjang secara keseluruhan ini benar-benar mampu menyihir para penonton untuk tetap duduk di bangkunya sepanjang film. Adegan peperangan dibuat sebegitu apiknya dan jalannya perang pun tak banyak dipotong….Benar-benar panjang dan memuaskan bagi para penonton. Strategi yang dipakai dalam perang pun sangat cerdik sehingga mengundang decak kagum. Setiap scene yang ada sangat berarti dan tak boleh dilewatkan satu scene pun.

John Woo benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya dalam film ini. Tak hanya mampu mengarahkan adegan action saja. Ia juga tak gagap mengarahkan para aktornya. Ia mampu menampilkan Cao Cao sebagai tokoh antagonis yang tetap punya sisi humanis (saat ia meng-encourage pasukannya yang sakit tifus untuk tetap berperang) dan jangan dilupakan chemistry antara Tony Leung dan Takeshi Kaneshiro yang pas sekali. Sementara pemain lain yang kebanyakan asal Cina Daratan pun mampu menokohkan karakternya masing-masing dengan baik. Sebagai pemanis muncul Lin Chi Ling yang anggun serta Vicky Zhao yang jenaka. Meski begituFilm ini lebih memfokuskan kepada tiga tokoh saja yaitu Zhou Yu, Zhuge Liang dan Cao Cao, padahal tokoh Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei lah yang lebih dikenal dalam sejarah Three Kingdoms. But whatever, Do Not Miss This Movie Folks…..
Click to view my Personality Profile page

polls